Deddy Hamdun

Rumah asri nan elok di kawasan bergengsi di jalan Yupiter 4A/5 Villa Cinere Mas – Jakarta itu tampak lenggang. Tak ada hentakan tubuh tinggi besar dan suara ciat-ciat – berlatih silat – seperti dua tahun silam. Begitu pula di Jalan Kebon Nanas II/2, Jakarta. Tak ada lagi senda gurau sang ayah dengan anak-anaknya.

Sejak 29 Mei 1997 lalu, pemilik kedua rumah tersebut  – Deddy Hamdun – menghilang, kini tinggallah istri keduanya, Eva Arnaz, yang tinggal di Cinere dan istri pertamanya, Laila, beserta ketiga anaknya di Kebon Nanas yang menunggu-nunggu kapan Deddy pulang. Begitu pula orang tua Deddy, yakni Abdulllah Hamdun dan S. Attamimi yang tinggal di Ambon.

“Saya sengaja ke Jakarta untuk mencari kejelasan apakah anak saya hidup atau mati,” kata Abdullah kepada ADIL. Yang ia dapati adalah kekecewaan. Dan puspom ABRI Mayjen TNI Syamsu Djalaludin – kata Abdullah – tak memberi jawaban dimana keberadaan anaknya dengan alasan masih memerlukan penyelidikan dan penyidikan. “Di Dephankam malah ketemu Jendral Wiranto pun tidak,” Katanya.

Deddy Hamdun Lenyap Tepat Saat Pemilu 1997

Deddy Hamdun, 43, lenyap tepat pada hari pencoblosan pemilu 1997. Hari itu ia mengantar Eva Arnaz, memeriksa kesehatan di RS Bunda Menteng. Kemudian pergi bersama kedua temannya, Noval Alkatiri dan Ismail. Waktu itu menurut Eva, Deddy duduk di depan di samping Noval yang mengemudikan BMW itu.

Setelah itu, Deddy tak pernah pulang. Baik ke rumah Eva maupun ke istri tuanya. Eva telah, mengadukan perkara itu ke sana ke mari. Namun tak ada jawabnya. Berbagai spekulasi sempat merebak. Termasuk kemungkinan telah dihabisi oleh saingan bisnisnya, sesama makelar tanah.

Kisah gelap tentang  Deddy Hamdun sedikit terkuak setelah Pius Lustrilanang dan Desmond J. Mahesa dilepaskan penculiknya. Baik Pius maupun Desmond mendapat cerita dari Sony dan Yani Afri – yang hingga kini juga masih raib – bahwa Deddy Hamdun pernah satu sel dengan mereka.

Baca Juga : “Ke mana ayah ma?” Nasib Noval Alkatiri

Berbagai spekulasi baru tentang penculikan Deddy pun mencuat. Banyak pihak meyakini, Deddy diculik oleh aparat keamanan karena keterlibatannya dalam berbagai kerusuhan semasa kampanye pemilu 1997. Salah satunya adalah tawuran massal antara pendukung PPP dan Golkaar di Cawang Jakarta selatan.

Deddy yang sangat populer di kalangan komunitas keturunan Arab di bilangan Jakarta-Bogor, memang dikenal sebagai pendukung fanatik partai berlambang bintang.

Keluarga terus mencari Dedddy Hamdun

Dugaan kematian yang berembus belakangan, membuat keluarganya panik. Abdullah Hamdun, S. Attamimi, Luthfi, dan Eva Arnaz, hampir tiap hari terlihat di Kontras berupaya mencari kabar sebenarnya orang yang mereka nantikan kedatangannya itu.

Sementara Laila, istri pertama Deddy Hamdun, juga menunggu kedatangan suaminya di rumah kunonya yang cukup luas di susut jalan Kebon Kacang Jakarta. Laila dan ketiga anaknya merasa sangat kehilangan. Menurut mereka, sebelum hilang Deddy masih selalu berkomunikasi dengan mereka meskipun lebih sering bermalam di kediaman Eva Arnaz.

Laki-laki tinggi, tegap, berhidung mancung, dan berkulit gelap yang bernama Deddy Hamdun itu, oleh keluarga dan teman-temannya dikenal berpembawaan keras. SejaK kecil ia berlatih bela diri. Sejak SD hingga SMA-nya di Ambon, lelaki blesteran Ambon-Arab itu, sehari-harinya tak lepas dari aktifitas fisik.

Waktu mudanya di Ambon, ia selalu membela teman-temannya jika mendapat kesulitan. “Jika temannya pada pihak yang benar ia mesti membelanya, meski harus dengan berkelahi,” kata Abdullah Hamdun, Ayah Deddy Hamdun.

Dua belas tahun masa sekolah di Ambon, dia jalani dengan lancar. Angka rapornya selalu lumayan, pergaulannya dengan kawan-kawannya baik, begitu pula di mata guru-gurunya. Dengan kebiasaan melatih fisiknya, bagi teman-temannya, Deddy menjadi tumpuan yang andal saat kawan-kawan mendapatkan kesulitan.

Baca Juga : Wawancara TIME dengan Pramoedya Pramoedya Ananta Toer 

Misalnya ketika terjadi kesalahpahaman antara satu kumpulan anak-anak muda atau pelajar dengan kumpulan yang lain.

Selapas SMA, 1972, Deddy Pergi ke Yogyakarta  melanjutkan kuliah di Akademi Bank Indonesia hingga tamat sebagai sarjana muda, 1978. Semasa kuliah, Deddy juga menjadi orang yang aktif dalam organisasi yang mewadahi para perantau yang berasal dari Ambon.

Seuasai merampungkan sarjana mudanya, Deddy berlibur ke Jakarta. Sehari menjelang Natal 1978, ia bertemu Laila – tinggal di kawasan Matraman, Jakarta – yang masih duduk di bangku kelas II SMA. Perkenalan itu berlangsung di rumah seorang teman Laila. “Enam bulan kemudian kami kawin,” kata Istri pertama Deddy Menganang.

Sejak menikah, Deddy tidak lagi mendapat kiriman uang dari orang tuanya di Ambon. Hingga bangku kuliah pun ia tinggalkan. Ia pun bekerja serabutan untuk menafkahi keluarganya. Dari bisnis jual beli mobil, hingga mengurus penjualan tanah.

Perkawinan dari cinta kilat sejoli Deddy – Laila, awalnya tidak disetujui kedua pihak keluarga. Sebab, mereka masih sekolah. Tetapi, mereka tetap nekat kabur. Mereka berpindah-pindah dari rumah satu saudara ke saudara lainnya.

Baca Juga : Esai Ki Hajar Dewantara 1957

Hingga tahun 1984, pasangan tersebut membangun rumah sendiri di jalan Kebon Nanas II/2 yang sampai sekarang di tempati Laila bersama anak-anak mereka Della, Panser, dan Lady.

Tahun 1992, Deddy mengawini Eva Arnaz. Meski sejak pernikahannya dengan Eva ia lebih sering bermalam di kediaman Eva dan sudah pisah dengan Laila, Deddy masih selalu berkomunikasi. “Kalau nggak ke saya, ke anak-anak.

Sekarang pun, walaupun pak Deddy0nya ngak ada, saya masih menganggap dia ada,” katanya. Bahkan, ada 28 Mei 1997 malam, Deddy masih mengunjungi Laila. Mereka makan malam bersama anak-anaknya di Hotel Nirwana Jatinegara.

Deddy Hamdun Diduga Dibunuh

Kedekatan Deddy  – direktur operasional PT Cisarua selatan itu – dengan keluarganya setidaknya terbukti oleh banyaknya keluarganya yang selalu mencari keberadaan Deddy sejak hilang. Orang tuanya di Ambon menjadi sering ke Jakarta karena mencari kabar anak ketiga dari ketigabelas bersaudara itu.

Laila dan anak-anaknya, serta istri kduanya Eva Arnaz juga telah berusaha keras mencari Deddy. Dari melapor ke Polda Metro Jaya dua bulan setelah Deddy hilang dan menguasakan pengacara.

Hingga bergabung dengan para keluarga korban penculikan yang belum kembali, mengadukan nasibna ke Komnas HAM, dan mendatangi Tim Pencari Fakta ABRI dan Menhankam/Pangab dengan didampingi Kontras.

Bagi Eva, selama enam tahun berjalan berumah tangga dengan Deddy, perjalanannya mengarah ke yang baik. Misalnya, mereka berdua telah berhaji bersama tahun 1996.

Bahkan menjelang hilangnya Deddy, mereka sedang bikin pesantren di Wanasari, desa yang berbatasan dengan Selabintana, Sukabumi.

Baca Juga : Esai Dono 1996

Bagi Laila, Deddy adalah ayah yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. “Ia sering mendatangi anak-anaknya, dan kalau pergi keluar kota selalu memberitahu,” Kata Laila. Begitu pun bagi orang tua dan adik-adiknya, yang menghormati Deddy sebagai orang yang mandiri.

Lalu bagaiman perasaan mereka dengan dugaan kematian Deddy Hamdun? “ Saya merasa mas Deddy masih hidup, meskipun saya pasrah dengan takdir Allah,” Kata Eva kepada ADIL. Perasaan yang sama juga dialami keluarga Abdullah Hamdun. Menurut perasaan mereka Deddy masih hidup.

“Meskipun dengan kabar dugaan kematiannya, kami deg-degan dan was-was,’ kata Abdullah Hamdun


Selama bulan Mei, Moeseum akan menurunkan berita tentang hiruk pikuk situasi pasca kerusuhan 1998. Semua tulisan berita pasca kerusuhan 1998, bersumber dari konten Tabloid ADIL, yang ditulis ulang oleh Moeseum.id

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here