keluarga korban penculikan mei 1998

Mayjen TNI Syamsu Djalaludin – Berbulan-bulan – beberapa bahkan lebih setahun – para korban penculikan tidak pernah ada kabar beritanya. Keluarga korban telah berupaya ke sana ke mari mencari kejelasan. Termasuk mendatangi Puspom ABRI, Rabu (22 Juli lalu).

Rombongan keluarga korban itu sempat melakukan dialog  selama dua jam dengan komandan Puspom Mayjen TNI Syamsu Djalaludin.

Berikut ini petikan dialog mereka:

Misiati D Utomo (Ibu Petrus Bimo):

Bagaimana kabar anak kami sekarang pak, tolong kembalikan anak kami? Kami tidak ingin yang lain. Kembalikan anak kami?

Mayjen TNI Syamsu Djalaludin:

Kami sedang mengusut dan menyelidikinya. Sabarlah bu, kalau sudah ketemu, kami akan segera jawab.

Anak Kami Masih Ada atau Tidak?

D Utomo Rahardjo (Ayah Petrus Bimo):

Saya hanya ingin mengajukan pertanyaan singkat. Apakah anak kami masih ada atau tidak?

Mayjen TNI Syamsu Djalaludin:    

Pertanyaan bapak sederhana. Tetapi saya belum bisa memberi jawaban sekarang. Sekarang kami tengah memeriksa sebelas tersangka berkaitan dengan penculikan itu. Mohon tunggu perkembangannya. Itu dari kami dan sekali lagi mohon maaf, bukan kami membatasi.

Rupanya Utomo tidak puas, karena kesal, ia akhirnya ke luar dari ruangan. Utomo merasa jawaban yang dilontarkan Syamsu sangat klise.

Luthfi (Adik Deddy Hamdun):           

Detik demi detik kami hidup dalam stres pak. Lebih baik kami dieksekusi mati dari pada disiksa begini. Bahkan ibu saya semalam kejang. Karena itu. Omongkan saja keadaan mereka sekarang. Kalau benar mereka sudah tewas seperti yang diduga Pius, di mana kuburan mereka?

Mayjen TNI Syamsu Djalaludin:

Saya juga ingin mendengar dari Pius soal ini. Kami sudah mengontak Pius ke Palembang. Inilah akibatnya kalau ekpos terlalu berlebihan. Sehingga membuat banyak orang binggung. Bapak-bapak ibu-ibu bisa lihat, sebagai ketua Tim Pencari Fakta, setiap fakta yang saya temukan, saya lapor kepada pemimpin.

Baca Juga: Selamatkan Mereka Pak Wiranto

Makanya terbongkarlah orang-orang yang diduga melakukan perbuatan tercela ini. Saya mengerti dan menyadari dan saya akan berusaha sekuat tenaga. Kami tidak akan menutup-nutupi. Tidak ada yang kebal hukum di negara kita ini, baik Jenderal , Presiden, atau siapapun.

Saya juga cukup stress diburu wartawan tiap hari, saya mau ngomong apa lagi.

Eva Arnaz (Istri Deddy Hamdun):

Jadi bapak nggak sependapat dengan Pius, artinya masih ada kabar baik?

Mayjen TNI Syamsu Djalaludin:

Makanya kami tunggu keterangan Pius.

Luthfi:

Maksudnya, omongan Pius itu benar?

Mayjen TNI Syamsu Djalaludin:

Belum bisa saya katakan. Saya berbicara selalu dengan fakta. Nggak bisa saya bilang kata Pius begini, lalu saya bilang benar. Nggak bisa, Harus ada fakta berdasarkan keadilan.

Penyekapan Korban Penculikan  Dilakukan di Cijantung, Markas Kopassus

Luthfi:

Apakah bapak juga belum tahu di mana tempat penyekapannya?

Mayjen TNI Syamsu:

Sudah, sudah, kami sudah tahu lokasi penyekapannya.

(dari bisik-bisik dengan kolonel CPM Mungkono, perwira penyidik 11 tersangka, Syamsu membenarkan jika penyekapan korban penculikan itu dilakukan di Cijantung, markas Kopassus).

Abdullah Hamdun (Ayah Deddy Hamdun):

Dulu kami siap menghadapi penjajah, walaupun senjata mereka lengkap. Apakah sekarang ini kami harus berhadapan dengan oknum Kopassus dan aparatnya yang tak bermoral itu?

Mayjen TNI Syamsu:

Betul sekali apa yang bapak katakan. Walaupun pil itu pahit tetapi kalau untuk obat ya harus ditelan. Namun walaupun madu itu manis kalau itu racun ya jangan ditelan. Ini tugas saya, kewajiban saya. Dan sekarang tersangka sudah kami tahan dan kami siapkan pasal yang akan dituduhkan terhadap mereka.

Daftar nama korban mei 1998
Daftar Korban penculikan.

Sudah Ada 11 Tersangka

Said Alkatiri (Ayah Noval Alkatiri):

Saya akan menanyakan pada pak Syamsu hanya dua patah kata saja. Petama, tolong anak saya ini berada di mana dan dalam keadaan bagaimana.

Baca Juga: Deddy Hamdun Pendukung Fanatik PPP

Kedua, meminta dalam waktu yang sesingkat-singkatnya ke 12 orang ini dikembalikan kepada keluarganya masing-masing yang sudah sangat merindukan mereka kembali. Lalu apakah para penculik itu tidak mempunyai perasaan, bagaimana kalau anaknya hilang semacam kita punya anak.

Mayjen TNI Syamsu:

Saya sudah berkali-kali mengatakan bahwa kami baru saja memeriksa, dan sekarang ini sudah ada 11 tersangka. Dan kami akan melakukan pemeriksaan dan pengusutan selanjutnya. Yang baru terbongkar sekarang ini baru kasus Andi Arief dan rumah susun klender.

Baca Juga: Yani Afri Sopir Mikrolet yang Lenyap

Dan ini kita gali terus, makanya kami meminta bantuan. Saya juga mau secepat mungkin pengharapan bapak-bapak dan ibu-ibu, ya pengharapan saya juga cepat terselesaikan. Dan ini tugas mulia bagi saya, bukan tugas main-main. Saya akan mengusut tuntas.

Tuti (Ibu Yeni Afri):

Saya harap kepada pak Syamsu, kalau bisa beritahu di mana anak saya berada sekarang. Saya ingin tahu. biarpun ia cacat, atau berbentuk apa, saya ingin tahu di mana dia. Soalnya salah seorang keluarga saya, begitu mendengar ada lima orang meninggal, ia langsung kejang.

Mayjen TNI Syamsu:

Saya nggak bisa berkata sebentar lagi. Nggak bisa bilang oh, ini terlibat, oh itu PM terlibat. Betul, ikut serta, maksudnya dalam proses apanya. Memang benar ada beberapa institusi. Ada oknum Babinsa, Koramil, Kodim, Kodam, dan BIA. Dan ada Polri yang diduga terlibat.

Tapi itu kan harus berdasarka fakta dan bukti nanti. Lalu,pasal mana yang bisa memenuhi unsur-unsur untuk kita ajukan ke pengadilan militer. Jadi kita tidak asal main tuduh-tuduh saja.


Selama bulan Mei, Moeseum.id akan menurunkan berita tentang hiruk pikuk situasi pasca kerusuhan 1998. Semua tulisan berita pasca kerusuhan 1998, bersumber dari konten Tabloid ADIL, yang ditulis ulang oleh Moeseum.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here