diplomasi beras

Diplomasi beras – Belum setahun RI lahir, tapi sudah pintar berdipomasi. Citra republik muda ini memang berdaulat. Memojokkan Belanda dengan “diplomasi beras.”

Judul: THE STORY OF INDONESIAN REVOLUTION 1945 – 1950

Oleh : P.R.S Mani

Penerbit : Centre for South and Southeast Asian Studies, Unversity Of Madras.

Tahun Terbit: 1986, 114 Halaman.

Pada 8 April 1946 Free Press of Journal di Bombay, India, menyiarkan berita di halaman depan: Indonesian’s Goodwill Gesture Towards India, Premier Sjahrir’s offer of 500.000 tons of Rice.  

Berita tawaran PM Sjahrir berupa 500.000 ton beras untuk dibarter dengan tekstil dan obat-obatan itu dikutip secara luas oleh pers India dan luar negeri.

Di Jakarta berita itu tersiar 12 April, bersamaan dengan pesan Nehru kepada Sjahrir, berisi salam kepada rakyat Indonesia “yang sedang berjuang dengan gagah berani untuk kemerdekaannya”. Nehru ketika itu sedang dalam perundingan dengan Inggris mengenai kemerdekaan India.

Negerinya menghadapi kesulitan pangan, yang walaupun belum segawat bencana di Benggala beberapa tahun sebelumnya, cukup serius. Karena itu tawaran Sjahrir sangat dihargai oleh Nehru dan pendapat umum di India.

Baca Juga : Karya-karya Sjahrir

Inilah yang kemudian terkenal sebagai “diplomasi beras” Sjahrir yang sekali pukul mematahkan blokade ekonomi NICA – Belanda, melenyapkan mitos seolah-olah Republik Indonesia menderita kelaparan. Selain menyingkapkan bahwa Belanda tidak berkuasa di wilayah RI, juga sekaligus menampilkan republik muda ini sebagai pelaku aktif dalam politik Internasional.

Berita tadi disambut ragu oleh dunia. Tambah pula Belanda bersitekan: karena secara de jure mereka memegang kedaulatan atas Hindia Belanda, tawaran beras harus dilakukan melalui mereka.

Petani Indonesia Mengulurkan Tangan

Untuk melenyapkan skeptisisme, pada 23 April Sjahrir menyatakan, “Saya ingin mengulangi, bahwa saya telah memberikan kepada wakil Free Press of India, sebuah gambaran benar tentang situasi pangan dan kebutuhan kami akan barang-barang impor. Perkiraan paling rendah tentang panen tahun ini ialah lima juta ton, sedang perkiraan tertinggi  tujuh juta ton”

Seraya menegaskan rakyat Indonesia mengkonsumsi tidak lebih dari empat juta ton, Sjahrir berkata, “Sekalipun jika tidak ada surplus beras, saya pikir rakyat kami bersedia memberikan 500.000 ton beras ditukar dengan tekstil. Saya rasa lebih dari wajar RI berbuat apa yang mungkin guna meringankan situasi pangan di India. Kami bersimpati terhadap rakyat India dan akan menyambut dengan baik terwujudnya hubungan ekonomi dan rohani antara RI dan India sebagai antara negara-negara merdeka.”

Baca Juga: Mencari Keadilan Di Zaman Kolonial

Tugas memberi semangat kepada bangsa di belakang tawaran beras itu dilaksanakan Wakil Presiden Hatta. Dalam pidato radio pada 22 Juni 1946, ia menyatakan tawaran itu berdasarkan kemanusiaan, salah satu prinsip dasar nasionalisme Indonesia yang tercantum dalam UUD.

Ia juga menegaskan, persahabatan kita dengan India adalah suatu kategori khusus. India dan kita menentang kapitalisme dan imperialisme, dan terdapat banyak persamaan  dalam perjuangan, katanya.

Dan presiden Soekarno dalam pidato HUT Proklamasi Kemerdekaan pertama 17 Agustus 1946 mengatakan, “Aspek paling memuaskan dari politik luar negeri kita adalah persetujuan (beras) yang telah tercapai antara kita dengan pemerintah India. Dan barter beras dengan tekstil dan obat-obatan itu terlaksana baik.

Diplomasi Beras
Foto Sjahrir sedang meninjau beras yang akan dikirim ke India.
Sumber: TEMPO, 25 April 1987.

Mani Kagum Pada Tokoh-Tokoh Indonesia

Demikianlah kisah “diplomasi beras” Sjahrir, yang dimulai dengan wawancara yang disiarkan oleh Mani, koresponden Free Press of Journal Bombay di Jakarta. Mani datang pertama kali ke Jakarta sebagai perwira penerangan tentara India yang mendarat di bawah komando Letjen Sir Philip Christison pada 29 September 1945 dengan tugas melucuti tentara jepang yang kalah perang dan membebaskan tahanan dalam kamp Jepang.

Sebagai perwira tentara Sekutu, ia menyaksikan perlawanan pemuda di Surabaya, Oktober – November 1945. Setelah bertugas sebagai wartawan, ia jadi diplomat. Sebagai atase pers, di Konsulat Jenderal India di Jakarta pada 1947. Dan pada 1949 dia jadi Konsul India di Yogyakarta.

Pengalamannya selama lima tahun di Indonesia di zaman revolusi bersenjata dituliskannya dalam buku The Story Of Indonesians Revolutions 1945 – 1950,  setelah pensiun setelah menjadi duta besar di berbagai negara.

Yang paling berkesan ialah tatkala dia tidak saja berkenalan mesra dengan para pemimpin Republik, seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir, tapi juga merupakan orang yang dipercayai PM Nehru.

Baca Juga: Saksi Rezim Demokrasi Terpimpin

Mani terus terang mengaku, “Sesungguhnya, saya sangat dipengaruhi oleh karisma Soekarno, oleh intelek tenang dan sopan Hatta dan pikiran menyusup dan analitis Sjahrir.”

Dia menulis berdasarkan catatan pada masa 1945 – 195. Dia bahkan tidak menyembunyikan sikapnya. “Saya secara positif adalah komentator yang bersimpati, seluruhnya terikat pada kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah seraya tidak menyimpang dari nalar obyektivitas.

Khusus mengenai Sjahrir, ia menulis, “Kekaguman saya terhadap Sjahrir dan respek terhadap inteleknya tiada mengenal batas. Dia telah sangat dermawan mendidik saya tentang politik dan urusan internasional. Karena itu, adalah wajar saya memberikan hormat dan mempersembahkan buku ini sebagai kenang-kenangan.

Diplomasi Beras Sjahrir masa Soekarno.
Soekarno dan Sjahrir. Sumber: TEMPO.

Tapi bagi orang yang “bebas nilai” terhadap Sjahrir, membaca buku ini akan menambah pengetahuan tentang keadaan Indonesia pada asa awala republik. Mani juga mengucapkan terima kasih yang istimewa kepada sejumlah orang Indonesia  yang dikenalnya pada kurun waktu itu.

Mislanya: Mr. Maria Ulfah, Sri Soewarni, Herawati Diah, Subadio Sastrosatomo, Soedarpo, Soedjatmiko, Dr. Priyono, Sofyan Tanjung yang datang melindungi Mani setelah Sjahrir di culik di Solo, Ny. Suryadarma, Yetty Zain, Djohan Sjahruzah, Ali Budiardjo, Mochtar Lubis, Sultan Hamengkubuwono, “yang memperlihatkan banyak concern terhadap kebahagiaan saya.”

Baca Juga : Kebijakan Pemimpin Surakarta Masa Krisis Ekonomi 1930

Walaupun dalam buku ini ia melakukan kesalahan dalam mengeja nama-nama Indonesia; atau Sjahrir dikatakan pergi ke perundingan di Hoge Veluwe  awal 1946, padahal tidak – karena delegasi Indonesia waktu itu dipimpin oleh Mr. Suwandi – toh semua itu tidak mengurangi nilainya sebagai kesaksian pribaadi terhadap sebuah episode historis bangsa Indonesia.

Buku ini merekam suatu kurun zaman ketika Nehru tanpa mengharapkan balasan apa-apa memberikan dukungan sepenuhnya kepada perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Atas prakarsa Nehru, diselenggarakan Asian Relations Conference di New Delhi, Maret 1947, yang mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. PM Sjahrir hadir sebagai ketua delegasi Indonesia.

Buku ini mengingatkan kita lagi akan hubungan akrab itu. Tapi entah apa sebabnya kemudian, sesudah 1950 kedua negara saling menjauh. Mengenai hal itu, “bukanlah bagi saya, melainkan bagi oran lain untuk menyelidiki dan membahasnya,” tulis Mani, perwira-wartawan-diplomat India yang sungguh-sungguh sehabat sejati Indonesia.

Baca Juga : Artikel Manajemen SDM Karya Bondan Winarno

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here