gerakan mahasiswa
Fahri Hamzah Menulis Esai Berjudul Beban Berat Mahasiswa, Terbit Pada 31 Oktober 1998 di GATRA. Sumber Foto: GATRA.

Gerakan Mahasiswa – Seorang peneliti mengajukan pertanyaan kepada saya tentang apa yang terjadi dalam tubuh gerakan mahasiswa sekarang? Pertanyaan ini menarik karena akasi-aksi mahasiswa terkesan melemah, tidak kompak, dan tema atau isu yang mereka kemukakan tidak terfokus.

Pertanyaan ini juga penting untuk menerangkan kembali bahwa analisis sebagian pengamat tentang gerakan mahasiswa sebelum 21 Mei lalu overestimate, sehingga banyak “penaruh harapan” yang kecewa dengan kinerja mahasiswa belakangan ini. Mungkin euforia yang dulu membuat sebagian pengamat melihat peristiwa 21 Mei –saat Soeharto menyatakan berhenti sebagai presiden – adalah karya penuh mahasiswa.

Padahal, mahasiswa kini mengahadapi kesulitan dan dilema, antara tuntutan moral untuk meneruskan kerja besar me-lengser-kan Soeharto dan kenyataan lain bahwa mereka sesungguhnya sangat lemah. Mahasiswa secara kolektif tidak punya kekuatan yang cukup untuk tetap pada garis sikap yang eskalatif dalam menuntaskan reformasi di segala bidang. Inilah yang menyebabkan aksi mereka menjadi sporadis pada tema dan waktu, karena tidak ada isu yang disepakati bersama.

Baca Juga: Militer dan Kekerasan Massa

Mereka berbeda pendapat tentang situasi sekarang, lebih spesifik misalnya  berbeda pendapat tentang presiden B. J. Habibie. Habibie tidak disepakati sebagai musuh bersama, sehingga tidak bisa menjadi sasaran tembak bersama. Pihak di luar mahasiswa pun berbeda pendapat tentang situasi sekarang dan khususnya kepresidenan Habibie, sehinga tidak ada dukungan eksternal yang cukup kuat terhadap gerakan mahasiswa.

Orde Baru Membersihkan Kreativitas Politik

Seluruh situasi ini bukanlah keadaan baru dan sekali jadi. Ia adalah akumulasi selama 30 tahun lebih bumi Indonesia dibersihkan dari kreativitas politik. Dan hal ini tentu terjadi di kalangan mahasiswa, sehingga ada sebagian pengamat yang bahkan tak percaya bahwa Soeharto turun karena tekanan mahasiswa.

Menurut pendapat ini, Soeharto mundur lebih karena alasan-alasan lain, misalnya karena sudah tidak ada yang mau menjadi menteri di kabinetnya, menyusul pengunduran diri 14 menteri, atau malah karena Soeharto punya skenario sendiri.

Memang menarik untuk mendiskusikan ulang, apa yang menyebabkan Soeharto mundur, terutama jika dikaitkan dengan betapa lemahnya kekuatan rakyat –termasuk mahasiswa- selama ini di mata Soeharto. Selama lebih dari 30 tahun, penguasa tidak mendirikan tiang masyarakat masa depan.

Yang berdiri adalah sebuah sistem kekuasaan bobrok yang merusak tubuh masyarakat secara perlahan. Selama ini, tidak ada kesejatian, semua abstrak, mengambang, dan keropos. Sekali tertiup badai, semuanya goyah kehilangan pegangan.

Baca Juga: Tragedi di Hotel Horison

Maka, kalau mahasiswa berdebat tentang konstitusional atau tidaknya Habibie sebagai presiden, manakah yang selama ini konstitusional? Apakah pemilihan umum (pemilu) yang curang, direkayasa dengan tipu daya, teror, dan pemaksaan itu konstitusional?

Apakah wakil rakyat dari semua fraksi yang diangkat atas persetujuan Soeharto Konstitusional? Sementara kalau ada dua lembaga itu (pemilu dan MPR) tidak konstitusional, maka sebagai sumber segala legitimasi pelaksanaan konstitusi negara, mungkinkah dari mereka lahir produk hukum dan undang-undang yang  konstitusional?

Oleh karena itu kita patut prihatin ketika ada kelompok mahasiswa dan politikus  tua yang mengampanyekan komite rakyat sebagai pengganti  MPR dan Presiden BJ. Habibie. Kami khawatir kalau sejarah bangsa kita jalan di tempat dan bahkan terbalik, bahwa kitaa selalu memulai setiap orde dengan sengketa.

gerakan mahasiswa
Fahri Hamzah Menulis Esai Berjudul Beban Berat Mahasiswa, Terbit Pada 31 Oktober 1998 di GATRA. Sumber Foto: GATRA.

Belajar Dari Masa Lampau

Orde Lama mengangkat dan mengubah Soekarno muda yang idealis menjadi Diktator. Soeharto mengambil alih kekuasaan dengan luka di mana-mana dan kini tumbang menanggung malu.

Orde presiden Habibie ini hendaknya menjadi transisi kompromi bagi kekuatan-kekuatan yang ada dalam masyarakat. Ide komite rakyat itu berbau sengketa dan tidak jelas operasionalisasinya. Komite rakyat tak akan sanggup mewakili kekuatan-kekuatan baru yang mengemuka. Hampir 90 partai berdiri, sehingga suara rakyat makin heterogen dan perlu ada mekanisme formal – konstitusional untuk menampungnya.

Mahasiswa hendaknya mendorong dan menjaga agar pemilu 1999 berjalan dengan luber, jujur, dan adil. Pemerintah harus didesak untuk tidak main-main dalam soal ini. Sebab, jika pemilu 1999 gagal, kita tidak hanya rugi dana, melainkan juga rugi orde. Momentum yang baik ini akan sia-sia berlalu begitu saja tanpa hasil, dan bangsa kita kembali bersengketa. Setelah pemilu, kita berharap terpilihnya wakil yang secara sah berhak mewakili dan mencerminkan aspirasi masyarakat.

Tentu kita juga mengharapkan terpilihnya seorang pemimpin yang berbeda dengan orde sebelumnya, pemimpin yang secara kultural siap mengajak kita memasuki alam Indonesia baru yang menjadi teman kehidupan indah bagi seluruh rakyatnya, dan bahkan sanggup memberikan kotribusi kreatif  pada perkembangan masyarakat dunia. Maka mahasiswa juga perlu mendesakkan transformasi budaya secara besar-besaran.

Baca Juga: Khittah Plus

Tugas ini memang berat bagi mahasiswa. Tapi itulah situasinya. Kita harus memulai lagi semuanya, bahkan mungkin dari nol. Kita tidak saja harus mendesak reformasi di bidang konstitusi. Yang lebih penting adalah reformasi mental masyarakat. Tidak ada konstitusi yang bisa berjalan dalam masyarakat yang sakit dan tidak punya komitmen menghargai konstitusi.

Saya tertarik menyaksikan dialog mahasiswa di Cibubur, 19-21 Oktober lalu. Dialog horisontal antarpemimpin mahasiswa yang diselingi dialog dengan pemerintah, konon, cukup substansial karena seluruh masalah negara dibicarakan dan dirumuskan di sana. Mahasiswa, sebagai kekuatan intelektual, memang seharusnya melatih kecerdasan karena moralitas tanpa kecerdasan tetaplah sebuah anarki yang tidak kita kehendaki.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here