Modernisme Islam
Esai Ulil Abshar Abdalla Saat Menjadi Peneliti Lakpesdam NU. Esai Yang Dimuat Majalah TIRAS Pada 5 Desember 1996. Sumber Foto: Majalah TIRAS.

Sekarang ini, kita sedang menyaksikan bangkitnya idiom-idiom Islam tradisional di kancah kehidupan keberagamaan masyarakat (kelas menengah baru) kota. Kecenderungan ini mulai terlihat agak mencolok sekitar setengah dekade terakhir ini.

Lihatlah, upaya tahlil diadakan secara terus-menerus di Istana Negara untuk “mendoakan” Bu Tien hingga 40 harinya. Bukan itu saja. Upacara yang sama juga diadakan di Astana Giri Bangun, tempat pemakaman Ibu Negara yang baru saja diangkat jadi “pahlawan nasional” itu.

Seperti kita tahu, tahlil, suatu ketika, pernah “diejek”  sebagai bentuk Islam sinkretis yang harus diberantas, karena mengotori Islam pristine yang diajarkan Nabi. Sementara, Islam sinkretis, di mana-mana, di tuduh sebagai representasi dari Islam dekaden warisan abad kemunduran. Jadi kesimpulannya, tahlil dipersepsikan sebagai “ikon” dari kemunduran Islam itu sendiri.

 Jika kita mengikuti materi-materi pengajian yang sekarang ini marak diadakan di lingkungan “orang-orang kaya baru”, akan terlihat bahwa sebagian besar daripadanya adalah materi-materi yang dahulu diajarkan di lingkungan pesantren, surau, dan musala di kampung-kampung. Meski, tentu, telah mengalami re-interpretasi dan “repackaging” dengan corak yang lebih gemerlap dan memenuhi selera konsumeristis orang-orang kaya  itu.

Tengoklah barang sebentar pengajian-pengajian mereka itu, maka untuk sebagian besar adalah berkisar pada soal-soal sufistik, soal-soal esoteris yang nadanya sekadar memberikan “terapi” terhadap kekosongan spiritual masyarakat kota. Dalam bahasa pesantren (“penjaga gawang” Islam tradisional di Indonesia itu), pengajian mereka itu hanyalah untuk memberikan tanwirul qulub, pencerahan dan penerangan hati. Ini adalah salah satu judul kitab yang sangat populer di pesantren.

Chiki-Chiki

Baru-baru ini, Emha Ainun Nadjib me-release sebuah album barjudul Kado Muhammad, dengan sebuah lagu utama berjudul Tombo Ati. Barangsiapa pernah berkenalan dengan Islam sebagaimana dipraktikkan di kampung-kampung, Islam yang dalam kategorinya Ernest Gellner disebut sebagai mewakili low tradition, maka tak akan terlalu asing dengan lagunya Emha itu.

Memanfaatkan sarana budaya pop, dengan ditunjang popularitasnya sebagai “selebriti” Islam yang boleh dianggap paling terdepan saat ini, Emha mencoba memungut praktik-praktik “sinkretis” Islam di kampung-kampung, lalu mengemasnya menjadi suguhan “pop” yang akrab dengan cita rasa Islam masyarakat kota. Kesan asalnya sebagai “kampungan” sudah luntur sama sekali, dan renyah, ibarat chiki yang murah dan lezat, tapi sudah jelas tidak mengenyangkan dan (apalagi) menyehatkan.

Kado Emha itu secara langsung menandai kecenderungan yang sudah terlihat beberapa waktu terakhir ini, yakni penyerapan idiom-idiom “sinkretis” dari Islam tradisional ke dalam cita rasa hidup masyarakat Islam kota yang gila akan “kebaruan” (novelty). Idiom-idiom itu masuk ke dalam kecenderungan besar yang sekarang sedang menguasai gaya hidup masyarakat kota: konsumerisme.

Baca Juga: ‘Islam Kiri’ Warisan Nasser

Dengan kata lain, Islam tradisional itu telah dijadikan “komoditas” untu hasrat “konsumeristis” masyarakat kota yang sedang menikmati “kelimpahan material”. Fungsinya tentu sudah amat berbeda dengan ketika di kampung-kampung itu.

Di kampung saya dulu, Islam “sinkretis” itu adalah “cara pandang”, “norma hidup” serta semacam “weltanschauung”. Tapi ketika mengalami efek pen- Chiki – an  di kota itu, Islam sinkretis tersebut telah berubah menjadi tontonan, pertunjukan, performance, happening, singkatnya barang dalam pengertian yang dipahami oleh Marx: yakni sebuah fetish. Di situ Islam direifikasi, bukan lagi bagian yang membentuk “makna hidup”.

Tanwirul Qulub dan Tanwirul Uqul

Pertanyaan yang langsung menyergap kita di sini adalah: bagaimana dengan proyek modernisme Islam yang hendak mengikis habis elemen-elemen sinkretis dan irasional dalam Islam – katakan saja – “sarungan” itu. Proyek modernisme Islam sebetulnya terletak pada “pencerahan akal”, tanwirul uqul, agar tercapai apa yang ia cita-citakan, yakni simetrisme atau kesejajaran antara ajaran Islam dengan capaian-capaian teknologi modern.

Modernisme Islam sama sekali tidak mencitakan satu “pencerahan hati”, tanwirul qulub,  dan karena itu agak sedikit jengkel pada sufisme. Tapi, lihatlah, sekarang yang terjadi justru sebaliknya. Masyarakat Islam kota yang menjadi basis sosial gerakan modernisme Islam itu justru “banting setir” dan kasmaran berat dengan tasawuf.

Gagasan tentang tradisionalisme Islam yang dikemukakan dengan lantang oleh Prof. Sayyed Hossein Nasr, memperoleh popularitas yang luas (baca buku Agama Masa Depan tulisan bareng Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis, terbitan Paramadina, 1995). Ini semua menunjukkan apa?

Tak pelak lagi, proyek modernisme Islam di Indonesia sekarang ini sedang mengalami tantangan yang serius. Hal itu terjadi pada dua level sekaligus, yakni level esoteris  yang langsung berkaitan dengan privacy kehidupan keagamaan per individu, serta level eksoterik yang berkaitan dengan sektor publik dalam penataran kehidupan bermasyarakat.

Pada level esoteris, seperti sudah dikatakan di muka, modernisme Islam gagal memberikan landasan “makna hidup” kepada masyarakat modern (urban) yang mengalami  – meminjam istilah Prof. Nasr – “kesengsaraan” (spiritual) sehingga terpaksa harus balik lagi mengais-ngais dari “kebijaksanaan spiritual” lama untuk mengobati “kesengsaraan” tersebut.

Baca Juga: Garib Demak – Semarang

Proyek modernisme Islam yang dahulu diarahkan pada “tanwirul ‘uqul” sekarang malah berputar ke belakang menjadi “tanwirul qulub”.  Tapi amat disayangkan, hal itu terjadi persis pada saat konsumerisme menjadi gaya hidup yang populer, sehingga “pencerahan hati”  itu tak lebih dari sekedar trend yang masih kita persoalkan “daya tahannya” dalam jangka panjang.

Di level eksoterik, proyek modernisme Islam (setidaknya di Indonesia) juga dipersoalkan, karena ujung-ujungnya justru pada apa yang sering disebut sebagai “politik representasi”, yakni tuntutan akan keterwakilan umat Islam dalam distribusi kekuasaan di tingkat elite (kata “elite” ini harus memperoleh garis bawah).

Banyak orang menganggap, inilah yang menjadi “bibit kawit” (asal mula) dari munculnya kembali kecenderungan politik aliran di Indonesia akhir-akhir ini. Oleh karena itu, agenda politik yang selalu menjadi persoalan bagi kaum modernis Islam di Indonesia adalah bagaimana meletakkan Islam dalam perjuangan demokratisasi yang sekarang ini menjadi “common denominator” dari perjuangan masyarakat sipil  (jika memang ada) secara umum di Indonesia sekarang. Ada kesan bahwa, demokratisasi merupakan semacam “ancaman” terhadap kepentingan jangka pendek (“Politik representasi”) kaum Islam modernis tersebut.

Modernisme Islam
Esai Ulil Abshar Abdalla Saat Menjadi Peneliti Lakpesdam NU. Esai Yang Dimuat Majalah TIRAS Pada 5 Desember 1996.
Sumber Foto: Majalah TIRAS.

Islam Balsam Atau Islam yang Membebaskan Dari Ketidakadilan?

Walhasil, ada dua keberatan pokok pada “karier” perjuangan modernisme Islam sekarang ini. Di level esoteris-individual, tampak menonjol kesan memanfaatkan agama sebagai semacam “opium”  saja bagi masyarakat, jika istilah Marxian yang agak kurang “sopan” ini boleh dipakai di sini.

Islam diratifikasi melalui eksploitasi simbol-simbolnya untuk kebutuhan pemenuhan hasrat “konsumeristis” masyarakat kota. Meminjam bahasa Alquran, Islam berhenti berfungsi sebatas sebagai “obat” (opium), syifa’, bukan dilanjutkan sebagai hudan, penunjuk, ke  arah perubahan dalam tatanan yang tidak adil di masyarakat.

Singkat kata, Islam di tangan kaum modern sekarang ini menjadi cenderung “terapeutik”, mengobati saja. Islam balsam,  kata Sritua Arif yang mengagumi Ali Syariati itu.

Baca Juga : Khittah Plus

Pada level publik, Islam modernis cenderung dikesankan “akomodatif” terhadap kekuasaan, sehingga kurang mendukung gerakan demokratisasi di Indonesia. Masyarakat luas di Indonesia tentu mempunyai harapan besar (yang mungkin agak berlebihan) terhadap Islam yang menjadi agama kaum mayoritas di sini agar menjadi elemen yang positif, bukan saja dalam aspek integrasi bangsa yang sudah terlalu sering diulang-ulang. Tapi juga dalam mendorong “perubuahan struktural’ di masyarakat dalam pengertian yang tak usah dikait-kaitkan dengan “revolusi”, misalnya.

Islam yang terapeutik dan akomodatif sekarang ini kurang berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat banyak. Karena dari dulu, fungsi itulah yang memang menonjol.

Jika memang Islam adalah “kado”, meminjam istilah Emha dalam albumnya itu, maka janganlah ia menjadi kado “natal” yang dibagi-bagikan kepada “anak-anak kota” belaka. Tapi, kado “pembebasan” yang pernah diucapkan Muhammad ketika membebaskan Mekkah dulu: Antumuth Thulaqa’, kalian bebas. Jadi yang penting bukan kadonya, tapi jenis kado itu sendiri, serta buat siapa.

Tapi ngomong-ngomong, dengan “kado” itu sendiri, bukankah kita sudah terjebak ke dalam idiom konsumerisme?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here