Perusahaan Modal Ventura
Artikel Bondan Winarno tentang manajemen modal di Forum Keadilan, September 1995.

Perusahaan Modal Ventura – Profil ekonomi Indonesia bisa diibaratkan seperti seorang wanita yang bahenol. Ini dikatakan oleh Sudaryanto Sudargo, direktur eksekutif PT Malindo Ventura Nusantara, sebuah perusahaan modal ventura patungan Malaysia – Indonesia.

“Dadanya besar, pinggangnya sangat ramping, lalu pinggulnya melebar – bahkan keterlaluan besarnya,” kata Sudaryanto. Bagian dada itu ibaratnya para pengusaha besar dan konglomerat. Bagian pinggang adalah pengusaha golongan menengah. Dan, bagian pinggul yang berlebihan adalah pengusaha kecil.

Ekonomi kita memang ditandai dengan perusahaan-perusahaan yang besar dan kuat, baik BUMN maupun Swasta. Untuk membiayai operasi dan pengembangannya, perusahaan besar ini menikmati cukup banyak fasilitas dari lembaga keuangan. Sekarang, dengan maraknya pasar modal, mereka ini lebih mudah lagi menjaring dana dari masyarakat untuk memperbesar lagi usahanya.

Di kutub yang lain, pengusaha golongan ekonomi lemah masih tetap berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Awal Juli lalu, Presiden Soeharto, ketika memimpin sidang kabinet, menginstrusikan kalangan perbankan agar meningkatkan pemberian kredit usaha kecil (KUK). Instruksi ini menunjukkan kepedulian dan keprihatinanya terhadap pengusaha kecil.

Tubuh Ekonomi yang Tidak Proporsional

Tapi, di antara kedua kutub itu, ada pengusaha golongan menengah yang kondisi idealnya belum lagi tercapai. Masyarakat golongan ini sebenarnya sudah menunjukkan tingkat pertumbuhan yang cukup cepat. Belum lama ini, saya melihat ratusan orang antre dengan tertib di kantor BTN Cabang bekasi.

Mereka menunggu giliran untuk menandatangani akad kredit pemilikan rumah. Dan, itu ternyata adalah pemandangan yang terjadi hampir setiap hari. Itu yang membuat hati saya terasa aman karena di sebuah cabang bank seperti itu, ratusan orang golongan sosial ekonomi menengah pulang membawa uang tunai untuk membeli rumah.

Baca Juga : Petani dan Negara

Tapi, kebanyakan masyarakat dari golongan ini adalah yang bekerja di BUMN atau perusahaan swasta besar. Masyarakat kelas menengah yang sudah mekar itu belum cukup mewakili pengusaha menengah yang melakukan wirausaha.  Itulah, barangkali, keadaan yang digambarkan Sudaryanto di atas: gadis montok yang pinggangnya kelewat ramping. Begitu rampingnya, selain tak proporsional  karena dada dan pinggulnya yang kebesaran, juga secara struktural merupakan titik lemah.

Cukup banyak sebenarnya wirausahawan yang berhasil mengembangkan usaha skala kecilnya yang berhasil. Malah, banyak yang berhasil menentaskan usahanya ke skala menengah. Kisah-kisah sukses semacam ini biasanya melibatkan sebuah bank yang dengan setia dan penuh kepercayaan membina perusahaan-perusahaan kecil itu.

Modal Ventura

Tapi, bagaimana dengan pengusaha yang langsung ingin memasuki sektor usaha berskala menengah? Beberapa jenis usaha di dalam era modern seperti sekarang ini, sekalipun merupakan usaha perintisan, tidak bisa lagi  masuk skala kecil karena investasi teknologi yang tidak murah. Memulai usaha seperti ini tidak lagi cukup dibiayai dengan fasilitas-fasilitas kredit sebangsa KUK.  Dan, tak semua wirausahawan dengan pikiran cemerlang seperti itu mempunyai orang tua yang bisa memodali perintisan usahanya.

Perusahaan modal ventura
Kolom Kiat Bondan Winarno di Forum Keadilan, September 1995.

Kesulitan pengusaha menengah untuk mewujudkan usahanya memang, terutama, terletak pada absennya modal awal. Lembaga perbankan biasanya kurang berminat dengan gagasan-gagasan baru yang belum terbukti keberhasilannya.  Jaya Gas, misalnya, tak akan pernah menjadi perusahaan besar bila, seandainya dulu, Ciputra tak mendengar usulan seorang pemuda yang “menjual” gagasannya. Pada waktu itu, menjual gas dan perabotannya bukanlah sebuah gagasan yang didukung bukti dan janji.

Baca Juga : Korupsi dalam Monografi

Modal ventura, karenanya, dianggap merupakan lembaga yang cocok untuk menumbuhkan para pengusaha skala menengah. Menteri keuangan sendiri beberapa kali berada di daerah untuk membuk perusahaan modal ventura baru. Entahlah, apakah pada waktu genta berbunyi menandai 50 tahun Indonesia  merdeka, sudah akan ada perusahan modal ventura di setiap provinsi di Indonesia.  Pada saat yang sama, beberpa perusahaan modal ventura yang sudah berdiri mulai kesulitan menambah dana.

Tidak gampangmembuat perusahaan modal ventura. Artinya, perusahaan modal ventura tetap saja merupakan sisi usaha buat mereka yang ingin menyatakan diri sebagai “agen pembangunan”.

Bila keadaan ini berkelanjutan, dengan cara apa lagi akan kita harapkan pemekaran pengusaha golongan menengah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here