mewaspadai perangkap utang

Mewaspadai Perangkap Utang – Buku ini memberi peringatan kepada negara yang membangun dengan mengandalkan utang. Juga kritik pada donor.

Judul : Risiko Pembangunan yang dibimbing utang

Penulis : Didik J. Rachbini

Penerbit : Grasindo, Jakarta, 1995, 114 Halaman.

Buku Didik J. Rachbini ini dapat dipandang sebagai suatu peringatan terhadap semua negara berkembang yang menyelenggrakan pembangunan dengan sumber biaya dari utang. Tak pelak lagi, peringatan Didik tertuju pula pada Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang yang pembangunannya juga digerakkan oleh utang. Bahkan utang Indonesia tercatat terbesar di Asia tenggara serta urutan ketiga terbesar di dunia.

Peringatan yang disampaikan Didik tampaknya sangat kontras apabila ditempatkan dalam rangkaian gambaran serta penilaian yang belakang muncul atas pembangunan, khususnya di Indonesia. Secara jelas, Didik menegaskan tak ada kisah negara yang sukses membangun dari biaya utang pada Bank Dunia, IMF, atau lembaga keuangan multilateral semacamnya.

Padahal sukses Indonesia dalam pembangunan cukup mendapat pengakuan bahkan dari Bank Dunia sendiri. Indonesia dinilai mengalami petumbuhan yang menakjubkan sehingga posisinya naik sebagai negara berpenghasilan menengah. Indonesia adalah salah satu Macan Asia yang tengah menggeliat.

Baca Juga : Sejarah Korupsi, Dari Masa Mataram Sampai VOC

Kalau demikian, apakah peringatan Didik tak mengenai sasaran? Justru sebaliknya, peringatan Didik menjadi sangat relevan untuk menumbuhkan sikap yang senantiasa kritis. Dalam pujian, tanpa disadari, sering terdapat racun yang sangat mematikan.

Menyimak keahlian Didik dalam persoalan ekonomi dan pembangunan, peringatannya terasa sangat nyata bahwa kesuksesan pembangunan yang dibimbing utang hanyalah bersifat artifisial. Terlebih bila dikaitkan dengan perkembangan aktual bagaimana perubahan nilai valuta asing (yen) telah berimplikasi pada pembengkakan utang secara drastis.

Mengembalikan Utang yang Membengak Jelas Sebuah Beban Berat

Kewajiban pembayaran utang beserta bunga bukan hanya berarti mengurangi hasil usaha yang dibuahkan proses pembangunan, melainkan akan menguras kemampuan ekonomi negara berkembang. Bagi kesinambungan pembangunan sendiri, hal ini tentu berbahaya karena mempersulit kemandirian dalam mengakumulasi sumber daya pembangunan. Kesinambungan pembangunan terpaksa ditopang melalui pencarian utang baru yang lebih besar, sehingga terjadi ketergantungan pada utang.

Ketergantungan itu seperti dikemukakan para teoretisi dependensia sangat rawan dan tak menguntungkan negara berkembang. Didik menyebutnya sebagai perangkap utang. Negara berkembang yang terperosok dalam perangkap ini sulit untuk bisa keluar membebaskan diri.

Baca Juga : Mencari Keadilan di Zaman Kolonial

Risiko yang menyertainya juga mahal karena yang terjadi dalam skema utang negara-negara berkembang malah harus menyubsidi negara-negara maju. Aliran modal bukan berlangsung dari negara maju (Utara) ke negara berkembang (Selatan), melainkan justru sebaliknya. Tak mengherankan jika kesenjangan antara Utara dan Selatan bertambah melebar dan sulit terjembatani.

mewaspadai perangkap utang

Mewaspadai Perangkap Utang Sebagai Bentuk Kolonialisme

Kenyataan yang timpang agaknya menjadi ironis sekali dengan cita-cita yang terbayang ketika negara-negara berkembang memaklumkan diri merdeka dari alam jajahan. Teraihnya kemerdekaan politis ternyata belum menjamin sepenuhnya pembebasan dari hubungan yang bersifat eksploitatif. Kolonialisme dalam bentuk yang lama telah tiada, namun ia hadir kembali secara lebih canggih dan sering tak disadari. Sifat eksploitatif kolonialisme tetap hadir dengan wajah baru inheren dalam pemberian utang ataupun program kerjasama lain.

Kehati-hatian terhadap utang sebagaimana ditekankan Didik sangat diperlukan terutama bagi penentu kebijaksanaan, decision maker.  Idealnya memang utang hanya dijadikan sebagai pelengkap, yang dari waktu ke waktu harus makin berkurang. Hanya saja, dalam praktik proporsi utang telah jauh melampau ambang batas.

Bukan itu saja, Didik juga melontarkan kritik-kritik mengenai manajemen utang yang tak transparan sehingga mempersulit kontrol sosial. Pemanfaatan utang tak luput dari sorotan Didik karena kurang memberikan dampak produktif bagi seluruh masyarakat. Semuanya ini ikut memberi andil atas kegagalan pembangunan yang dibiayai utang.

Baca Juga : Petani dan Negara

Namun faktor eksternal secara lebih besar harus bertanggung jawab atas kegagalan yang dialami negara berkembang dalam membangun dengan terjebak dalam perangkap utang. Dalam kaitan ini, kritik yang dilontarkan Didik terhadap negara donor serta lembaga-lembaga internasional sebagai pengelola pemberian uang cukup beralasan. Karena dalam krisis utang yang dihadapi negara-negara berkembang, yang diutamakan adalah kepentingan negara donor. Demi terjaminnya kelancaran pembayaran utang, lembaga pengelola semisal IMF dan Bank Dunia tak segan melakukan tekanan terhadap negara berkembang sehingga sektor ekonomi rakyat sering menjadi korban.

Buku ini penting untuk disamakan setidaknya kerena tiga alasan. Pertama, ditulis oleh orang yang benar-benar berkompeten dalam bidangnya. Hal ini membuat gambaran dan gagasan yang dibangunnya membentuk argumentasi yang kukuh serta mempunyai dasar-dasar teoretis yang matang.

Baca Juga : Esai Kritis Dono Menguliti Kelas Menengah

Kedua, buku ini memberian peringatan terhadap kondisi riskan Indonesia maupun negara berkembang lainnya sehubungan dengan perangkap utang yang sangat berbahaya. Ketiga, dalam buku ini juga ditawarkan pentingnya kebijaksanaan diplomasi ekonomi. Kemelut utang tak mungkin lagi hanya diselesaikan melalui peningkatan nilai ekspor, penjadwalan kembali pembayaran. Diplomasi ekonomi untuk mengurangi dan menghapuskan sebagian utang harus dilakukan pula.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here