museum rumah kelahiran bung hatta

Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta – Salah satu usaha yang bisa dilakukan untuk mengenang salah seorang dari Proklamator Kemerdekaan Indonesia yaitu dengan mengabadikan kehidupan serta penghidupannya yang sudah dilakukannya. Usaha ini sebenarnya dilakukan untuk menghadirkan kembali suasana kehidupan Bung Hatta pada masa lalunya dengan membangun kembali rumah kelahiran ini yang sekarang menjadi Museum.  Rumah kelahiran Bung Hatta tersebut terkenal dengan sebutan museum rumah kelahiran Bung Hatta.

Dengan membangun atau mendirikan kembali rumah kelahiran Bung Hatta ini bukan merupakan salah satu usaha untuk mengenang dan menghargai jasa-jasa beliau yang sudah dilakukan, melainkan lebih ditujukan pada prinsip melanjutkan cita-cita dan perjuangannya. Dengan adanya rumah ini kembali, diharapkan para generasi penerus muda penerus bangsa ini dapat mempelajari dan lebih memahami kepribadian serta ketokohan beliau sehingga muncul sebagai pemimpin terkemuka di Indonesia ini.

Perjalanan Bung Hatta

Bung Hatta dulunya dilahirkan di rumah ini pada tanggal 12 Agustus tahun 1902. Beliau merupakan anak dari Haji Muhammad Djamil dan Saleha, ia merupakan keturunan kedua dari Syech Batuhampar yang bernama Syech Abdurrahman. Bung Hatta tinggal di rumah ini dari tahun 1902 sampai tahun 1913 sebelum pindah ke rumah barunya yang letaknya hanya di depan rumah ini.

Walaupun memang bisa dibilang relatif singkat, tetapi suasana dari kehidupan di rumah ini memberikan kenangan yang sangat mendalam serta berperan besar dalam pembentukan watak beliau sehingga bisa menjadi yang sudah kita kenal ini. Beliau dikenal sebagai orang disiplin, kerja, ketepatan waktu.  Kasih sayang yang diterima Bung Hatta pada kehidupan rumah ini memberikan andil dalam proses pembentukan kepribadiannya tersebut.

Kakek Bung Hatta yang bernama H.Marah sering dipanggil dengan sebutan Pak Gaek pada masa kecil Bung Hatta dulu, mengusahakan pengangkutan pos atau kontraktor pos dari wilayah Bukittinggi, Lubuk Sikaping terus hingga ke Sibolga (Memoar Bung Hatta, hal.6-8). Tentu sebagai kontraktor pos partikelir pada zaman itu dahulu, Bung Hatta melihat cara kerja kakeknya itu dalam mempersiapkan segala kebutuhan pekerjaannya tersebut.

Ketepatan waktu, teliti, perawatan, disiplin kerja, organisasi yang baik, serta memiliki kasih sayang yang ditunjukkan Pak Gaek, memberikan pengalaman yang tentunya sangat berbekas di pikiran Bung Hatta. Dikatakan pula bahwa kolam (tabek),  kandang kuda, kereta kuda, dan juga suasana lingkungan merupakan hal yang memberikan kesan penting kepada beliau.

Bung Hatta dulunya menimba pendidikan sekolah dasarnya di Europese Lagere School (ELS) di Bukittinggi. Di Meer Uitgebreid Lager Orderwijs yang disingkat dengan MULO, sekarang bernama SMP 1 Padang serta Prins Hendrikschool (PHS) Batavia. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda sekitar tahun 1921-1932 pada Nederlandsche Handels-Hoogeschool, sekolah dagang tinggal di negara Belanda tepatnya di Rotterdam.

Baca Juga : Sebuah Nama untuk Negeri Merdeka

Perjuangan dan semangat pantang menyerah yang dikobarkan Bung Hatta sudah dimulai sejak sekolah, yaitu bersama teman-temannya seperjuangan untuk mendirikan Jong Sumateranen Bond, baik di Padang maupun juga di Batavia. Perjuangan ini dilanjutkan di negeri Belanda dengan melalui organisasi ‘Perhimpunan Indonesia (PI)’ yang kemudian tidak disangka akan menjadi sebuah organisasi politik yang sangat diperhitungkan oleh Belanda dan organisasi internasional.

Setelah dianggap berbahaya, tokoh Bung Hatta bagi Belanda serta Jepang dalam memperjuangkan kemerdekaan di Indonesia ini, maka beliau harus mendapatkan hukuman serta penderitaan dalam pengasingan antara lain ke Banda Naira, Digul, dan Bangka.

Sagat berat sekali perjuangannya untuk kemerdekaan, beliau bertekad serta menyatakan bahwa dia baru akan menikah setelah Negara Indonesia ini merdeka. Omongan tersebut terbukti Bung Hatta baru menikah setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Perjuangannya diteruskan dalam berbagai bentuk dan rupa sampai akhir hayatnya pada tanggal 14 Maret 1980. Saat ini beliau dikenang sebagai salah satu seorang Proklamator Kemerdekaan dan Pendiri Republik ini banyak yang memanggilnya sebagai the founding father.

Pembangunan Kembali Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

Rencana pembangunan kembali atau istilahnya rekonstruksi rumah kelahiran dari sang proklamator Bung Hatta ini bermula dari Ketua Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara yang sekarang bernama Yayasan pendidikan Bung Hatta, beliau mengelola universitas yang memakai nama besar Bung Hatta. Setelah sekian lama pembangunan replika rumah Bung Hatta tertunda, akhirnya baru pada bulan September tahun 1994, lahan rumah Bung Hatta tersebut dapat dibebaskan.

Pada bulan November tahun 1994 sampai dengan bulan Januari tahun 1995 dimulailah penelitian untuk mendapatkan bentuk rumah Bung Hatta yang akan dibangun ini. Didasarkan dari foto yang ada dalam memoar Bung Hatta pada hal. 7 dan beberapa foto yang masih disimpan oleh keluarga Bung Hatta sendiri, maka mulailah menginterpretasikannya kedalam gambar perencanaan pembangunan rumah.

Rumah Bung Hatta yang dominan terbuat dari bahan dasar kayu ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1860-an dan mengalami masa pasang surut secara fisik maupun fungsi karena sudah tua dan diperkirakan runtuh sekitar tahun 1960-an. Sebelum akan dibeli oleh Haji Sabar, bangunan belakang rumah tersebut memang masih berfungsi dan dihuni oleh beberapa keluarga yang ada secara bergantian atau bergilir.

Rencana pembangunan ini baru mulai dikerjakan pada tanggal 15 Januari 1995 serta diresmikan pada tanggal 12 Agustus 1995, yang bertepatan dengan hari kelahiran dari Bung Hatta serta bertepatan juga dengan peringatan 50 tahun Indonesia Merdeka. Pembangunan rumah dari Bung Hatta ini menghabiskan 266 meter persegi sasak yang berasal dari batuang atau bambu yang didatangkan langsung khusus dari Batusangkar, 75 meter persegi kayu banio tampuruang langsung dari Muara Labuh, kayu ruyuang, 525 meter tadir pariang yang didatangkan dari Payakumbuh, 1.600 zak Semen Indarung, 336 meter persegi pasir pasang, 25.000 buah batubata dari Payakumbuh, 138 meter persegi batu kali dari Padang Tarok serta material pendukung lainnya.

Baca Juga : Pers Mencerdaskan Bangsa

Untuk kelengkapan rumah ini dilengkapi seperti kunci-kunci, grendel, dan tiang kuno yang didapat dari berbagai pihak serta masyarakat sekeliling sehingga tampilan rumah ini memang snagat mirip mendekati aslinya.

Penataan lanscape yang ada ini dari luar rumah memang diusahakan mendekati suasana awalnya, seperti halnya dengan  ditanami murbai di depan kapuk atau di bagian belakang rumah, ditanamnya tiga pohon jambak di bagian depan rumah, serta pohon sawo.

Untuk tanaman pendukung lainnya ditanam beberapa tanaman yang memang sudah mulai jarang ditemukan pada saat ini, diantaranya seperti tetehan, adam dan hawa, pinang rajo, bungo kuniang, kaladi aie dan tanaman hias lainnya. Proses pembangunan rumah Bung Hatta ini dilakukan oleh tenaga tukang sebanyak 40 orang, ditambah dengan adanya tukang khusus untuk bangunan kapuk dan juga penanam tanaman yang ada ini.

Menjadikan sebuah rumah yang mengandung sejarah, memang jika dilihat dari keseluruhan rumah Bung Hatta ini juga dapat menggambarkan dan menceritakan suasana yang terjadi di masa lalu mengenai teknologi pembangunan rumah, situasi serta kehidupan masyarakat masa lalu dan khususnya kehidupan keluarga besar dari Bung Hatta itu sendiri. Untuk masa yang akan datang, bangunan ini sangat berguna untuk misi pendidikan yang ada, sejarah dan juga bisa menjadi sebuah objek wisata.

Alamat Museum Replika Rumah Bung Hatta ini berada di Jalan Soekarno-Hatta No. 37 Bukittinggi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here