Pemberontakan Daud Beureueh
Soekarno Bersama Daud Beureuh. Sumber : TEMPO 1982.

Pemberontakan Daud Beureueh – Kisah Daud Beureueh dan pemberontakan Aceh. Seorang ulama dan militer serta kedudukannya sebagai wakil kekecewaan rakyat. Kisah tentang kurangnya pengertian. Data penting dalam sistematika yang tak rapi.

Judul : TGK. M Daud Beureueh, Peranannya dalam pergolakan di Aceh

Oleh: M. Nur El Ibrahimy

Penerbit : Gunung Agung, cet, kedua, 1982, 327 halaman.

Peristiwa Aceh 1953 merupakan suatu peristiwa nasional. Namun sampai dengan saat ini, pengetahuan kita tentang peristiwa itu masih sangat terbatas.

Apakah latar belakang pemberontakan Daud Beureueh, tokoh kharismatik dan legendaris masyarakat Aceh? Apakah betul masyarakat Aceh a-nasionalis? Bagaimanakah hubungan Daud Beureueh dengan Karto Suwirjo, Kahar Muzakar, dan tokoh-tokoh PRRI-Permesta? Dan bagaimana pula hubungan Daud Beureueh dengan Soekarno, Jenderal Nasution?

Buku ini menjawab beberapa masalah dasar di sekitar  pemberontakan Daud Beureueh  dan kawan-kawan. Ditulis oleh seorang yang sangat dekat dengan Daud, bahkan ikut bersama Daud dalam meruntuhkan kaum uleebalang, sebuah kelas feodal Aceh yang memonopoli kekuasaan ekonomi, sosial, dan politik selama beberapa abad. Karena itulah buku ini banyak memuat data yang sebenarnya sangat sukar diperoleh. Ini pulalah ini kekuatan buku tersebut.

Baca Juga : Militer dan Politik di Indonesia, Sebuah Buku yang Mengguncangkan

Tapi sayangnya, sistematika dan pengklasifikasian masalah yang dipaparkan tidak terlalu jelas. Selain tanpa bab, juga terkesan menanggung beban yang berat. Banyak persoalan yang ingin dikemukakan seperti juga terlalu banyak hal yang ingin diselesaikan. Akibatnya buku ini hanya mampu bertutur. Suatu gaya tutur khas Aceh.

Dengan sedikit konsentrasi, kita akan sulit menyusun babkan-babakan besar isi buku. Namun tampaknya keseluruhan penuturan ini terdiri dari lima bagian besar.

Pertama adalah proses pertumbuhan kelas ulama-andai boleh menyebutnya demikian, yang menyangkut berbagai hal. Antara lain adalah hubungan ulama dengan perjuangan melawan Belanda, peran ulama di masa kesultanan Aceh dan hubungan serta konflik-konflik “ulama uleebalang” yang mencapai klimaksnya pada Perang Cumbok.

Kedua, faktor historis. Menyangkut di dalamnya peran Aceh dalam kemerdekaan justru dalam situasi sangat kritis. Yakni ketika Yogya jatuh  ke tangan Belanda sementara hanya Aceh satu-satunya daerah yang tidak pernah lagi diduduki Belanda. Dilema antara memilih menjadi negara tersendiri  atau tetap setia terhadap proklamasi 1945  cukup banyak tergambar.

Ketiga, prakondisi dan manuver yang dibuat pemerintah yang mendorong terjadinya pemberontakan Daud Beureueh. Keempat, sikap pemerintah terhadap pemberontakan dan perpecahan di kalangan pemberontak sendiri. Dan Kelima, tentag  riwayat hidup Daud Beureueh sendiri dan peran non politis yang dilakukan terhadapa masyarakat Aceh.

Gerakan September 1953

Pemberontakan Daud Beureueh itu terjadi 21 September 1953. PM Ali Sastro Amidjojo menyebut peristiwa itu sebagai “Peristiwa Daud Beureueh” tapi rakyat Aceh lebih senang menyebut “Peristiwa Berdarah”.

Daud memproklamasikan daerah Aceh dan sekitarnya menjadi bagaia dari Negara Islam Indonesia Kartosuwirjo di Jawa Barat. Gerakan Daud Beureueh didukung oleh hampir seluruh aparat pemerintahan, dari wedana sampai ke camat dan lurah. Namun di Jakarta, PM Ali menyatakan “bukan pemberontakan rakyat Aceh”

Dan toh Ali terpaksa terkejut ketika koran-koran New York, AS, memuat berita tentang usaha memasukkan peristiwa Aceh ke dalam forum PBB. Gerakan ulama-rakyat secara intelektual terkesan low- profile ini sempat pula menyentak perhatian Internasional.

Baca Juga : Tanda dan Bahasa Kekuasaan

Usaha merebut simpati internasional itu tentu saja gagal. Tapi pemberontakan sempat memakan waktu 9 tahun dan tak pernah terpadamkan. Peristiwa yang telah banyak menelan jiwa dan harta itu – termasuk pembantaian Cot Jeumpa yang menewaskan 99 rakyat tak berdosa – berkahir dengan damai.

Daud turun gunung, bukan karena surat Syafrudin Prawiranegara dan M.Natsir – setelah mereka menyerah kepada pemerintah dari pemberontakan PRRI-Permesta – melainkan oleh persetujuan Daud-Kol. M. Yasin. Yang terakhir ini menjabat Pangima Kodam 1 Iskandar Muda ketika meletusnya pemberontakan.

Lima bulan sebelum pemberontakan, di Medan Daud justru menyerukan kerjasama dengan pemerintah untuk Amar ma’ruf nahi mungkar.

Pemberontakan Daud Beureueh
Soekarno Bersama Daud Beureuh.
Sumber : TEMPO 1982.

Lalu Mengapa Dia Berontak?

Pemberontakan itu adalah refleksi kekecewaan historis rakyat Aceh. Daud dan kawan-kawan muncul mewakilinya. Sejak pertengahan abad 18, rakyat Aceh telah berjuang melawan Belanda. Menjelang pendaratan Jepang (1942) rakyat di bawah ulama berjuang mengusir Belanda dari Aceh untuk selama-lamanya. Dan ketika Jepang pergi, hanya Aceh satu-satunya daerah Indonesia yang bebas merdeka.

Dalam posisinya yang strategis ini  toh Aceh menolak seruan Belanda membentuk Negara Sumatera. Daud yang pada waktu itu menjabat Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan tanah Karo sebenarnya bisa bertindak leluasa. Tapi dia bahkan menganjurkan rakyat membeli obligasi yang dikeluarkan guna menutup kebangkrutan pemerintah. Pembelian itu dilakukan rakyat dengan menjual kebun, sawah dan ladang serta perhiasan yang ada pada mereka.

Hasilnya dipakai sebagai biaya pemerintahan PDRI dan menggaji staf Angkatan Laut dan Angkatan Udara RI yang – oleh alasan keamanan terpaksa bermarkas di Kutaraja, Aceh. Bahka biaya perjuangan Dr. Sudarsono (Ayah  Dr. Yuwono Sudarsono) ke India dan L.N Palar ke PBB, juga dibiayai oleh rakyat Aceh.

Baca Juga : Diplomasi Beras P.M Sjahrir

Tidak sedikit dollar yang mengalir dari Aceh ke India dan New York demi Indonesia Raya. Rakyat Acehlah yang menyumbangkan hartanya untuk membeli dua pesawat terbang, hanya karena dua patah-kata dari Soekarno ketika berkunjung ke Aceh (1947). “Alangkah baiknya jika Indonesia mempunyai kapal udara untuk memperkuat pertahanan negara dan mempererat hubungan antarpulau.”

Permintaan ini dipenuhi rakyat hanya dalam tempo satu hari. Uang untuk membeli pesawat itu telah tersedia. Itulah sebabnya Soekarno menyebut Aceh sebagai “Daerah Modal” dan karena itu juga, Syafruddin Prawira Negara, wakil PM  (1949) menunjuk Aceh sebagai daearh “provinsi.”

Tetapi kegembiraan itu tidak lama. Justru setelah penyerahan kedaulatan, Provinsi Aceh dibubarkan dan Aceh hanya menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Utara. Keruan saja, sikap semacam ini menimbulkan kemarahan rakyat Aceh. Terlebih kemarahan ini dijawab pemerintah dengan latihan Mobrig secara besar-besaran di Aceh. Tampaknya pemerintah ingin melakukan tekanan psikologis terhadap rakyat Aceh dengan show of force-nya itu.

Latihan itu bukan tanpa reaksi. Berbarengan atau beberapa saat setelah latihan itu, muncul pula latihan pramuka di seluruh Aceh yang dilakukan anak-anak Aceh. Suatu usaha unjuk gigi untuk menyatakan tidak gentar melawan tentara. Keadaan semakin runcing oleh tindak penggeledahan rumah-rumah.

Baca Juga :  Sebuah Nama untuk Negeri Merdeka

Anehnya justru rumah para ulama lebih banyak yang digeledah. Termasuk rumah Daud Beureueh. Dan karena perundingan pemerintah pusat dengan Aceh selalu mengalami deadlock,  Daud Beureueh dan kawan-kawan berontak mewakili kekecewaan historis masyarakat Aceh.

Meskipun demikian, buku ini mengungkapkan bahwa sebenarnya pemberontakan itu tak perna terjadi andaikata pemerintah cukup memahami aspirasi masyarakat Aceh. Yakni memberikan otonomi bagi Aceh untuk mengatur hukum-hukum Islam berlaku di sana, sesuai dengan Piagam Jakarta. Tapi justru itulah yang tidak dipahami baik oleh Gubernur Sumatara Utara maupun pemerintah pusat. Bahkan tindakan kekerasan Pemerintah dianggap turut mendorong Daud Beureueh dan kawan-kawan naik gunung.

Kini, Daud Beureueh telah lama turun gunung. Tokoh yang bila dilihat dari sudut non-politis berhasil menggalang partisipasi masyarakat dalam membangun – bukan hanya masjid – jalan-jalan raya sepanjang 28 km dan jaringan irigasi seluas 122 km tanpa bantuan pemerintah  itu, telah tua-renta.

Dan bukan atas kemauannya sendiri, Daud disinggahkan ke Jakarta selama beberapa tahun. Berdiri terbungkuk dengan sepotong tongkat, ia manatap Indonesia dengan nanar. Dibenaknya masih teringat sebuah lagu perang:

“Hateebeu teutap beuseungguh-seungguh/Surak beuriueh hai pahlawan/Dum geutanyeu pahlawan gagah/Ta manou darah cit ba’ masa prang.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here