Kampanye partai NU

Suka atau tidak, Islam di Indonesia adalah suatu kekuatan yang hidup. Kalau dibiarkan rugi. Bila ditentang akan sia-sia. Mengapa tidak dimanfaatkan saja?”

Judul: THE STRUGGLE OF ISLAM IN MODERN INDONESIA.

Oleh: B.J Boland.

Penerbit: Koninklijk institute Voor Taal, Land en Volkenkunde The Hague.

Tahun Terbit: 1982.

Tebal: 283 Halaman.

Sebagai fenomena historis dan kultural, Islam di Indonesia merupakan sasaran penelitian dan penulisan yang menarik dan tak kunjung habis. Berbagai sudat pandangan dan disiplin keilmuan dapat dipergunakan: Sejarah, sosiologi, anthropologi, politik, budaya, dan juga theologi.

Boland dalam The Struggle Of Islam In Modern Indonesia menyorot masalah: ‘bagaimana peranan agama, khususnya Islam, dalam perjuangan Indonesia’. Tema yang menyangkut banyak segi pergumulan dalam Islam di sini – terutama ideologi dan politik.

Keterlibatan Islam dalam sejarah Nusantara sebetulnya sudah mulai sejak kedatangannya –abad ke-13. Dalam keterlibatan itu berbagai bentuk perguluman terjadi disebabkan oleh kontak Islam dengan agama yang sudah ada, budaya lokal, penguasa setempat, kebudayaan, dan ideologi asing yang datang kemudian, dan juga perkembangan Islam di negeri lain.

Apa yang terjadi menjelang dan sesudah Indonesia merdeka hanyalah lanjutan dan cerminan pergumulan sebelumnya – intern maupun ekstern. Keduanya sangat berkaitan dengan masalah ideologi dan politik.

Baca Juga: Cerita Pendek yang Praktis

Dalam pergumulan intern kita melihat bagaimana Islam terlibat dalam perumusan cita-cita politik. Apakah Islam harus merupakan sebuah ideologi alternatif ataukah cukup merupakan sumber inspiratif terhadap ideologi nasional?  

Apakah cita-cita Islam harus diperjuangkan secara eksklusif atau cukup implisit? Lewat parlemen atau pemberontakan?

Berbagai visi dan sikap terlibat dalam pergumulan itu. Perbedaan tersebut dengan sendirinya mempengaruhi pergumulan ekstern antara Islam dengan berbagai problem nasional: Ideologi, politik, sosial, ekonomi, budaya, hankam, dan hubungan antar agama.

Masalah Sosial  Tidak Mungkin Dipecahkan dengan Ibadat dan Khotbah

Buku ini cukup menggambarkan aneka pergumulan itu. Bahwa di sana sini masih ada cela, tak bisa dipungkiri, Misalnya: perbedaan visi keagamaan dan sikap politik antara Masyumi dengan NU – dua kekuatan yang sangat mewarnai keterlibatan Islam dalam masa Indonesia merdeka.

Hanya saja perbedaan kultur dan daerah basis kelompok kurang disoroti. Dalam bab terakhir Boland mengutarakan persoalan hubungan antaragama – khsusunya Islam dan Kristen.

Ia dengan tepat  merumuskan apa yang seharusnya dilakukan oleh para pemuka Islam dan Kristen, bahwa mereka hendaknya bekerja sama dalam memperjuangkan keadilan. Karena masalah sosial di Indonesia tidak mungkin dipecahkan hanya dengan ibadat dan khotbah.

Tapi harus dipecahkan dengan menangani struktur sosial-ekonomi. Sehingga hasil pembangunan tidak hanya jatuh ke tangan orang yang berkuasa dan kaya, juga menguntungkan orang miskin dan lemah.

Boland berkeyakinan Islam di Indonesia, biarpun orang suka atau tidak, adalah suatu kekuatan yang hidup. Kalau dibairkan alangkah ruginya. Bila ditentang akan sia-sia. Mengapa tidak dimanfaatkan saja? Tentu saja bukan dalam arti diperalat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here