kurban manusia
Demonstrasi Para Penganggur di Inggris. Sumber: TEMPO, 18 Desember 1982.

Kurban Manusia  – “Ekonomi berjalan baik; rakyat tidak,” kata Presiden Brazil . Buku yang menyerang kapitalisme maupun sosialisme  – plus intelektual ‘netral’ “Kalau saya dalam dinas, saya seekor babi. Saya selalu dalam dinas.”

Judul : Piramida Kurban Manusia

Oleh : Peter L. Berger (kata pengantar Johannes Muller)

Terjemah : A. Rahman Tolleng

Penerbit : Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, Jakarta, 1982, 240 hlm.

Buku Peter L Berger, Piramida Kurban Manusia, adalah buku yang sukar dibaca. Bukan karena isinya yang abstrak. Atau karena Berger tidak mau mengambil posisi yang jelas. Atau karena terjemahannya yang  bertele-tela (Rahman Tolleng telah berhasil mengindonesiakan buku ini dalam bahasa lancar).

Tapi karena Berger menolak memberikan resep mujarab, yang dapat dipakai untuk menyelesaikan persoalan masyarakat nyata kapan saja dan di mana saja. Seluruh buku ini bahkan menyerang  secara dahsyat  resep-resep yang ada, yang ditawarkan sebagai obat penyembuh ampuh.

Ada dua resep besar yang sekarang menguasai umat manusia: kapitalisme dan sosialisme. Kapitalisme, yang oleh Berger disebut mitos pertumbuhan ekonomi, menjanjikan pertumbuhan ekonomi yang cepat dan tinggi, yang meski mulanya menciptakan kesenjangan antara kaum kaya dan miskin pada akhirnya nanti kaum miskin akan diangkat ke luar dari lumpur penderitaan.

Dengan mengambil Brazil sebagai kasus, Berger menunjukkan bahwa janji mengangkat kaum miskin ini tidak terpenuhi. Apa yang disebut mukjizat ekonomi Brazil hanya mukjizat bagi golongan menengah ke atas, yang jumlahnya sangat kecil.

Akibatnya ekonomi Brazil bagai terbagi menjadi dua kawasan yang seakan tidak saling berhubungan, bak Negara Swedia ditempelkan ke Negara Indonesia, kata Berger. Yang Swedia (Ekonomi kelas menengah ke atas) berkembang cepat dan menjadi kaya. Yang Indonesia (ekonomi kelas bawah, mayoritas penduduk) tetap miskin dan tidak bisa berkembang.

Baca Juga : Pers Mencerdaskan Bangsa

Sehingga tidak kurang dari seorang Presiden Brazil sendiri, Emilio Medici, yang sempat meninjau kehidupan desa-desa, yang  berkata: “Ekonomi berjalan sangat baik, rakyat tidak.”

Sosialisme, atau mitos tentang revolusi, menjanjikan pemerataan kehidupan ekonomi. Dengan mengambil Cina sebagai kasus, Berger mengakui pemerataan memang terjadi, tetapi biaya manusia yang dikurbankan untuk itu sangat besar. Tahun 1950-1952, ketika diadakan kampanye gerakan Land Reform,  diperkirakan dua juta orang menjalani hukuman mati.

Sesudah itu meski keadaan memang lebih santai, teror politik masih terus berjalan sampai sekarang. Janji pembebasan besar demi perikemanusiaan (dalam kata-kata Marx “Loncatan dalam kebebasan”), tidak terpenuhi.

Kedua sistem ini, dalam kenyataan, berhenti pada janji

Sementara para pengikut berkelahi mempertaruhkan nyawa masing-masing. Tumpukan mayat inilah yang merupakan ‘piramida kurban manusia’ – untu sebuah masa depan yang samar-samar.

Berger lalu menasihati kita untuk tidak terjebak dan menjadi fanatik terhadap ideologi, sehingga kehilangan kepekaan terhadap kemungkinan-kemungkinan baru yang diberikan realitas. “Pandangan doktriner yang mengatakan bahwa hanya kekerasan revolusi yang dikehendaki, sama menyesatkannya dengan doktrin sebaliknya yang mengatakan bahwa revolusi tidak pernah merupakan kondisi yang perlu bagi pembangunan” (hlm.219).

Apakah ini berarti kita harus tidak memihak? Pertanyaan ini terutama penting bagi ilmuwan, yang sering mengambil posisi netral dalam menghadapi masalah sosial. Berger secara jelas menolak posisi ilmuan yang tidak memihak.

Baca Juga : Petani dan Negara

“Antara bebas nilai dalam pekerjaan ilmiah, dan tidak mempunyai komitmen nilai, terdapat perbedaa yang sangat besar,” katanya (hlm.228)

Bagaimanapun ilmuwan adalah manusia, dan sebagai manusia dia harus punya komitmen nilai. Tugasnya sebagai ilmuwan hanya semacam jabatan, yang tidak bisa menghapuskannya dari eksistensinya sebagai manusia. Kalau ada seorang ilmuwan mau mengingkari tanggung jawabnya sebagai manusia, lelucon yang dikutip Berger kiranya mengena: “Kalau saya dalam dinas, saya seekor babi. Saya selalu dalam dinas” (hlm. 228).

Dengan demikian, terhadap segala macam resep penyelesaian, Berger mengambil posisi yang tidak jelas (dalam arti positif). Karena dia melihat, pada setiap resep yang ditawarkan, kekuatan  dan kelemahan yang mendasar.  Berger  memang tidak memberikan resep baru, tapi komitmen nilainya jelas.

Demonstrasi para penganggur di Inggris. Sumber: TEMPO, 18 Desember 1982.

Manusia Kongkrit VS Ide Abstrak

Melalui buku ini ia terus menerus bicara untuk membangkitkan kewaspadaan kita supaya jangan sampai mengurbankan manusia-manusia kongkrit untuk ide-ide yang abstrak. Bagi Berger, cuma prinsip inilah yang universal – yang “ukuran penilaian yang berlaku dalam setiap kebudayaan, dan karena itu tidak terikat akan salah satu kebudayaan tertentu,” demikan disimpulkan Johannes Muller yang memberi pengantar yang bagus. (hlm.22).

Kalau kita mengikuti semangat buku ini, yang mengajak kita untuk menjadi kritis, makan prinsip yang cenderung mengelakkan terjadinya kurban manusia (prinsip-prinsip biaya manusiawi) perlu juga mendapat kritik yang tajam.

Prinsip ini punya kecenderungan kuat untuk mempertahankan keadaan yang sudah ada (status quo), dan karena itu menguntungkan sistem yang sudah ada. Padahal kadang-kadang diperlukan perubahan sosial yang mendasar, perubahan struktural di mana kurban manusia yang banyak tidak bisa dihindarkan.

Di Inggris, misalnya, perubahan sistem feodal ke kapitalis menjelang dan ketika revolusi industri telah meminta kurban dalam jumlah yang besar melalui peperangan bertahun dan eksploitasi manusia yang kejam. Begitu juga di Rusa dan Cina ketika sistem sosialisme mau ditegakkan. Di Chili pada 1973, usaha mengembalikan negeri ini ke jalan kapitalisme telah mengurbankan satu persen penduduknya.

Dalam kerangka ini, perbandingan kurban manusia yang diajukan Berger pada kasus Brazil dan Cina terasa timpang: Cina harus melakukan perubahan mendasar sistem kemasyarakatannya, Brazil tidak.

Baca Juga : Playboy Interview: George Aditjondro

Tapi, meski seluruh buku ini memberikan kesan kuat bahwa Berger berusaha meletakkan biaya-biaya manusia ini pada prioritas paling tinggi, dia cukup pandai untuk tidak memutlakkan susunan prioritas. Pada akhir bukunya, dia masih sempat mengatakan: “saya mengambil pendirian moral bahwa cara seperti itu (perubahan melalui kekerasan, AB) seharusnya selalu dijadikan upaya terakhir dan bukan upaya pertama” (hlm.219).

Dengan demikian, juga terhadap prinsip biaya-biaya manusiawi Berger “gagal” memberikannya sebagai prinsip universal. Tapi “kegagalan” ini menjadi juga keberhasilan Berger: dia berhasil meloloskan diri dari jaring-jaring kaum liberal fanatik, yang berbicara tentang prinsip-prinsip biaya manusiawi secara mutlak, tanpa peduli sebenarnya dia sedang mempertahankan sebuah sistem yang tidak manusiawi.

Di mana letak manfaat buku ini? Buku ini jelas tidak berguna bagi orang yang mau mencari resep ampuh untuk sebuah perjuangan yang menggebu-gebu. Buku ini bukan saja tidak memberikan resep semacam itu, tapi bisa membuat pembacanya bingung. Buku ini bisa sangat berguna bagi orang yang sudah memiliki keyakinan tertentu, tapi selalu melihat keterbatasan yang ada bagi keyakinannya.

Buku ini perlu untuk membuat kita berpikir dua kali, untuk menumbuhkan semacam kesangsian kreatif dalam diri. Seperti dikatakan Berger sendiri: “Adalah perlu menumbuhkan seni menyangsikan yang tidak gaduh. Adalah perlu mengambil tindakan tanpa gaduh dan dengan kesangsian, yang keluar dari rasa cinta kasih, yang merupakan satu-satunya motif yang dapat dipercaya bagi tindakan apa pun untuk mengubah dunia” (hlm.233). Buku ini perlu dibaca orang yang mau berpikir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here