pius lustrilanang pulang

Sebanyak 12 orang korban penculikan masih belum menentu nasibnya. Korban penculikan, Pius Lustrilanang khawatir 5 diantaranya tewas. Bahkan mungkin seluruhnya. Dapatkah dewan kehormatan militer menyelamatkan nyawa para korban tersebut?

Minggu (19/7), sekitar pukul 13.58 WIB, pesawat  Garuda GA-827 dari Amsterdam mendarat di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.  Salah seorang penumpangnya, Pius, segera disambut dan dielu-elukan oleh puluhan aktivis yang telah beberapa lama menunggu.

Pius Lustrilanang adalah orang pertama yang mengungkap misteri penculikan sejumlah aktivis beberapa waktu silam. Ia-tokoh lapangan yang dikenal dekat dengan Megawati itu-salah satu korban yang dibebaskan penculiknya sebagaimana Haryanto Taslam dan Desmond J. Mahesa.

Pius memilih membeberkan kasus penculikan itu pada publik dalam keterangannya di Komnas HAM 27 April 1998, sebelum kemudian ia terbang ke Belanda hari itu pula. Berkat pengakuannya, misteri itu lambat laun terbongkar sehingga pada pemeriksaan sejumlah anggota Kopassus seperti sekarang.

Baca Juga: Sonny Berlatar Belakang Pahit

Maka kedatangan Pius – setelah keadaan berubah total menyusul kejatuhan Soehartopun ditunggu-tunggu. Dan bukan Pius kalau tidak bicara blak-blakan. Kali ini soal kekhawatirannya tentang nasib para korban penculikan lainnya yang belum dibebaskan.

Deddy, Noval, Dan Ismail Dipindah, Namun Ketiganya Hingga Kini Tak Ada Kabar

“Saya khawatir lima di antara mereka (korban penculikan yang belum dikembalikan) telah meninggal,”  katanya pada pers sesaat setelah kedatangannya. Mereka adalah Deddy Umar, Hamdun, Noval Said Alkatiri, Ismail, Sonny, dan Ryan (Yanni Afri).

Pius Lustrilanang dibebaskan para penculiknya.

Para wartawan terkejut, dan mempertanyakan dasar kekhawatiran Pius Lustrilanang tersebut. Menjawab hal itu, Pius menyebut dugaannya berdasar pengalamannya saat masih disekap. Menurutnya, ia masuk ke dalam sel tahanan penculik tanggal 8 Februari 1998.

Baca Juga: Deddy Hamdun Pendukung Fanatik PPP

“Saat itu, Sonny dan Ryan sudah  9 bulan di sana. Menurut Sonny, Deddy Hamdun, Noval, dan Ismail ditahan beberapa hari setelah mereka,” kata Pius Lustrilanang.

Tak jelas kapan persisnya kelima orang tersebut dijebloskan ke tahanan  penculik. Yang pasti, Deddy dan dua rekannya itu menghilang sejak tanggal 29 Mei 1997, persis pada hari pemilihan umum.

Pius Lustrilanang – masih mengutip keterangan Sonny-menyebut bahwa Deddy, Noval, dan Ismail dilepas (atau mungkin dipindahkan ke tempat lain) dari tahanan tersebut tiga bulan kemudian. Artinya, sekitar bulan September atau Oktober 1997 lalu. Namun, hingga kini tak ada kabar berita tentang nasib ketiganya.

Pius Lustrilanang  Menjadi Saksi Sonny dan Ryan Dilepaskan,  Namun Hingga Kini Dua Orang Itu Tak Ada Kabar

Sedangkan Sonnny dan Ryan dikeluarkan tanggal 12 Maret 1998 – usai sidang umum MPR. “Bahkan saya melihat sendiri keduanya dilepas,” kata Pius. Namun, sampai keduanya sekarang juga belum pulang.

Seandainya mereka selamat, tentulah kelima aktivis itu sudah berkumpul dengan keluarga masing-masing. Tetap apa yang terjadi? Ternyata tidak satupun di antara mereka yang hingga sekarang diketahui rimbanya. Itu yang menjadi alasan Pius Lustrilanang, sehingga ia sangat khawatir dengan nasib kelima rekannya itu.

Bukan tidak mungkin mereka sudah “dilenyapkan”. “Kalau mereka selamat, seharusnya mereka sudah lebih dahulu berkumpul dengan keluarganya,” kata Pius.

Rombongan Keluarga Korban Bertemu Kontras, DPR,  Puspom ABRI, Hingga Departemen Pertahanan dan Keamanan

Perkiraan Pius Lustrilanang itu menjadikan keluarga korban semakin was-was. Mereka telah berulangkali datang ke Komnas HAM, bertemu dengan KONTRAS, dan ke DPR, Rabu (22/7) lalu – dengan membawa foto keluarga masing-masing yang hilang – mereka mendatangi Puspom ABRI.

Rombongan sempat berdialog dengan komandan Puspom ABRI Mayjen TNI Syamsu Djalaluddin. Namun, dialog sekitar dua jam itu tetap tidak memuaskan keluarga korban.

Baca Juga: Yani Afri Sopir Mikrolet yang Lenyap

Malah D Utomo Rahardjo, Ayah Petrus Bimo Anugerah, melakukan aksi Walk out karena kecewa dengan jawaban yang diberikan Mayjen TNI Syamsu.

“Jawabannya semua klise, kalau begitu, dialog ini sama saja dengan bohong. Saya tidak ingin dialog panjang. Yang saja inginkan, anak saya kembali,” kata Utomo yang sengaja datang dari Malang khusus untuk mencari tahu nasib anaknya yang diculik Maret 1998 lalu.

keluarga korban penculikan mei 1998
Rombongan Keluarga Korban Bertemu Kontras, DPR,  Puspom ABRI, Hingga Departemen Pertahanan dan Keaman

Tidak puas hanya bertemu Mayjen TNI Syamsu Djalaludin, esok harinya (kamis 23/7) rombongan yang berjumlah sekitar 10 orang itu, nekad mendatangi departemen Pertahanan dan Keamanan. Namun, tekad mereka bertemu dengan Pangab Jenderal TNI Wiranto tidak kesampaian.

Ketika Pangab sedang tidak berada di tempat. Apa boleh buat, upaya untuk mempertanyakan nasib anak dan suami yang hilang, terpaksa kembali gagal.

Keterlibatan Oknum  BIA, Polisi, dan PM Dalam Kasus Penculikan

Pengusutan pihak ABRI terhadap kasus penculikan ini memang terkesan lamban dan tertutup. Ini yang membuat keluarga korban semakin cemas. Memang sudah 11 orang oknum Kopassus yang sudah dinyatakan sebagai tersangka.

Termasuk diantaranya komandan Grup-4, kolonel Inf Chairawan yang disebut-sebut berperan besar sebagai operator penculikan ini.

Jumlah tersangka ini diperkirakan akan terus bertambah. Puspom ABRI  sudah menyebut adanya indikasi keteribatan oknum dari kesatuan lain. “Beberapa oknum dari BIA, Polisi, dan PM juga ada yang terlibat,” Kata Syamsu Djalaludin.

Kabarnya, Berita Acara Pemeriksaan (BAP) para tersangka, di antaranya sudah ada yang selesai proses. “Apakah mereka terbukti bersalah, itu tergantung di persidangan,” kata Syamsu.

Mereka –kata Syamsu- umumnya di kenakan pasal yang sama. Yakni tentang perampasan kemerdekaan orang lain (351 KUHP); melampaui batas kewenangan (pasal 26 KUHP Militer); dan tidak mentaati perintah dinas  (130 KUHP Militer).

Baca Juga: Noval Alkatiri Cuma Nonton Kampanye

Sesuai pasal itu, ancaman hukuman terbeerat bagi mereka adalah 12 tahun penjara. Hukuman akan lebih berat lagi jika terbukti ada korban yang tewas.

Akankah ini dapat membongkar kasus penculikan tersebut secara tuntas? Apalagi mampu menyelamatkkan 12 orang yang masih hilang? Mudah-mudahan ya, meskipun dalam kasus pengusutan penembakan mahasiswa trisakti tidak demikian.

Dalam kasus itu, ABRI hanya menyeret terdakwa yang –istilah pembelanya- hanya menjadi “kambing hitam”. Sekedar untuk meredakan kemarahan masyarakat, dan bukan membongkar perkara sesungguhnya.

ABRI Membentuk Dewan Kehormatan Militer

Keseriusan ABRI untuk menangani masalah ini memang tengah diuji. Tampaknya ABRI memahami persis tuntutan tersebut sehingga berencana membentuk Dewan Kehormatan Militer (DKM). Kabarnya, pekan ini, rencana pembentukan DKM akan segera diumumkan.

Selain mengusut motif politik di balik aksi penculikan para aktivis itu, DKM jugaa akan mengusut tokoh-tokoh yang berada di balik rencana tersebut. Tentu saja termasuk melacak keberadaan aktivis lain yang dinyatakan masih hilang.

“DKM akan dipimpin oleh jenderal berbintang empat,” kata Kasum ABRI Letjen TNI Fachrul Razi. Hal ini, Fachrul Razi, sesuai hierarki ABRI yang mengharuskan penyidik lebih tinggi dari yang disidik.

Pernyataan tersebut membuka kemungkinan untuk mengusut Letjen TNI Prabowo – Danjen Kopassus saat terjadi kasus penculikan. Namun yang santer disebut akan memimpin DKM adalah KSAD Jenderal TNI Soebagyo HS.

DKM boleh dibentuk. Namun-dalam waktu dekat ini yang lebih perlu adalah menyelamatkan para korban yang masih hilang. Sejauh ini, Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto hanya bisa meminta agar keluarga korban tenang.

“Tunggu saja. Semuanya kan belum terungkap. Sekarang ini sedang dilakukan penyidikan dan pengusutan. Apapun hasilnya akan kami beritahukan nanti,” katanya.


Selama bulan Mei, Moeseum.id akan menurunkan berita tentang hiruk pikuk situasi pasca kerusuhan 1998. Semua tulisan berita pasca kerusuhan 1998, bersumber dari konten Tabloid ADIL, yang ditulis ulang oleh Moeseum.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here