Nama Indonesia
Sampul Buku Karya Bung Hatta, Yang Membahas Sejarah Nama Indonesia. Sumber: TEMPO 1982.

Nama Indonesia – Pernah dengan nama ‘Insulinde’? Atau ‘Indunesia’? Pernah bahkan digunakan nama ‘Melayunesia’. Pada akhirnya pemilihan nama berdasar aspirasi perjuangan, dan beberapa tulisan Bung Hatta menuturkan hal itu.

Judul: Nama Indonesia (Penemuan Komunis?)

Oleh: Mohammad Hatta

Penerjemah: Gayus Siagian.

Penerbit: Yayasan Idayu, Jakarta, 1980, 32 Halaman.

Dalam mengenang hari lahir Bung Hatta (12 Agustus) yang genap sepuluh windu, serta peringatan 37 tahun Republik Indonesia, kita simak buku kecil yang berisi tiga artikel Bung Hatta tentang nama ‘Indonesia’.

Ini adalah karangan-karangan semasa almarhum bersekolah di negeri Belanda, tatkala Bung Hatta dan kawan-kawan dalam Perhimpoenan Indonesia gigih mempopulerkan nama ‘Indonesia’.

Di zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Orang Cina menamainya Nanhai (Kepulauan Laut Selatan), orang India Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), dan orang Arab Jazirat-al-Jawah (Kepulauan Jawa).

Bagi orang Eropa, daerah membentang luas antara Persia dan Cina adalah ‘India’. Muncullah istilah ‘Kepulauan Hindia’ (Indische Archipel: Indian Arcipelago; I’Archipel Indien) atau ‘Hindia Timur’ (Oost Indie; East Indies; Indes Orientales).

Ketika bangsa Belanda berhasil menguasai daerah dari Sabang sampai Merauke tahun 1910 (!), nama resmi yang digunakan adalah ‘Hindia Belanda’ (Nederlandsch Indie: Dutch Indies: Indes Neerlandaises). Nama lain yang juga dipakai adalah ‘kepulauan Melayu’ (Maleische Archipel; Malay Archipelago; I’Archipel Malais).

Dari Multatuli Hingga Ahli Etnografi

Eduard Douwes Dekker atau Multatuli (1820-1887) mengusulkan nama yang lebih spesifik: insulinde, artinya ‘Kepulauan Hindia’. Kurang populer. Lalu pada 1920-an, Ernest Francois Eugne Douwes Dekker atau Setyabudhi  (1879-1950) mempopulerkan Nusantara, yang diambilnya dari kitab Pararaton zaman Majapahit yang diterjemahkan J.L.A Brandes tahun 1920.

Di masa Majapahit, ‘nusantara’ berarti ‘pulau seberang’ (antara dalam Sansekerta artinya luar) yang dipakai menyebut pulau-pulau di luar Jawa, sebagai lawan Jawadwipa (Pulau Jawa). Oleh Setyabudhi kata ‘Nusantara’ diberi arti baru: ‘nusa di antara dua benua dan dua samudera’, sesuai dengan kata Melayu asli antara.

Syahdan seorang ahli hukum kelahiran Skotlandia dan Universitas Edinburg. James Richardson Logan (1819-1869), menerbitkan majalah Ilmiah tahunan, Journal Of The Indian Archipelago And Eastern Asia (JIAEA), tahun 1874 di Singapura. Pada 1849 seorang ahli etnografi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813 – 1865) menggabungkan diri sebagai redaksi majalah itu.

Dalam JIAEA Volume IV , 1850, hh 66-74, Earl menulis artikel on the leading characteristics of the Papuan, Australian and melayu – Polynesian Nations. Ia mengatakan, sudah tiba saatnya penduduk kepulauan Hindia memiliki nama khas (a distinctive name), agar tidak terkacaukan dengan penyebutan ‘India’ yang lain.

Pada halaman 71: “……. the inhabitants of the ‘indian archipelagos’ or Malayan archipelago’ would become respectively Indonesians or Malayunesians.”

Earl sendiri meyatakan memilih nama Malayunesia daripada Indunesia. Sebab Malayunesia amat tepat untuk ras Melayu, sedang Indunesia bisa juga dipakai untuk Srilangka dan Maladewa. Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai diseluruh kepulauan ini?

Pada halaman lain dalam majalah itu juga Logan menulis artikel The Etnology of the Indian archipelago (hh. 252 – 347). Ia, sebaliknya, lebih menyetujui nama Indunesia ciptaan Earl, dan huruf u  digantinya dengan o  agar ucapannya lebih baik.

Baca Juga: Beban Berat Mahasiswa

Pada halaman 254 Logan menulis Mr Earl suggest the ethnographical terms Indunesians, but rejects it in favour of malayunesians…. I prefer the purely geographical term INDONESIA, which is merely a shorter synonym for the Indian Island or the Indian Archipelago

Sejak saat itu Logan secara konsekuen memakai nama ‘Indonesia’ dan lambat laun pemakaian nama ‘Indonesia’ menyebar di kalangan ahli etnografi: E.T Hamy (Paris, 1877), A.H. Keane (London, 1880) dan W.E Maxwell (Singapura, 1882), misalnya. Mereka mengambil nama itu dar tulisan-tulisan Logan.

Pada 1884 Adolf Bastian  (1826 – 1905), guru besar etnologi Universitas Berlin, menulis buku Indonesien oder die inseln des Malayischen Archipel. Buku ini beredar di Negeri Belanda, dan menyebabkan banyak sarjana yang tertarik memakai nama ‘Indonesia’  – misalnya Hendrik Kern (1885) dan Christiaan Snouck Hurgronje dalam De Atjehers (1894).

Celakanya, dalam Encyclopaedia van Nederlandsch – Indie, Volume II, 1918, h. 143, dan dalam Beknopte Encyclopaedia van Nederlansch –Indie, 1921, h. 197, terdapat keterangan yang menyesatkan. Bastian dikatakan pencipta ‘Indonesia’. Padahal dalam bukunya Reisen im Indischen Archipel 1869, Bastian menyebut Logan pencipta nama itu.  Cuma dalam buku Indonesien di atas, Bastian tak menyebut hal itu.

Dari Etnologi dan Geografi Menjadi Identitas Perjuangan

Pada dasawarsa kedua abad XX nama ‘Indonesia’, yang dipakai dalam etnologi dan geografi itu, diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita menjadi nama yang berkonotasi politis: identitas bangsa yang memperjuangkan, kemerdekaan (lihat: Selingan).

Putra ibu pertiwi yang pertama kali memakai nama ‘Indonesia’ adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke Negeri Belanda pada 1913, beliau mendirikan biro pers dengan nama Indonesisch Pers-Bureau.

Tahun 1917 di Leiden berdiri Indonesisch Verbond van studeerenden. Lalu pada 1922 Indische Vereeniging (organisasi pelajar Hindia, terbentuk 1908) diubah menjadi Indonesische Vereeniging, dan pada 1924  menjadi Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta, yang sejak 1921 menjadi mahasiswa Handels Hooge School (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam serta anggota Perhimpoenan Indonesia lainnya, aktif memperjuangkan pemakaian nama ‘Indonesia’ di forum-forum Internasional: International youth peace camp di Bierville, Prancis (Agustus 1926); First International Congress of the league against imperialism and colonial oppression di Brussel (Februari 1927); international women League di Gland, Swiss (September 1927); World youth peace congress di Overijssel, Belanda (Agustus 1928).

Baca Juga: Diplomasi Beras PM Sjahrir

Sementara itu di Surabaya Dr. Sutomo membentuk Indonesische studies club pada 1924. Tahun itu juga perserikatan komunis di Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia.  Lalu pada 1925, Jong Islamitien Bond mendirikan kepanduan Indonesische Nationale Padvinderij.

Itulah tiga organisasi di tanah air yang pertama kali memakai nama ‘Indonesia’. Pemakaian nama itu lebih menyebar lagi setelah Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Tapi pada 1928 itu seorang ahli hukum Belanda, Mr. S. Mok, menulis dalam De Strijd bahwa ‘Indonesia’ mengerikan. Karena diciptakan kaum komunis. Di samping itu seorang ahli hukum adat di Leiden, Prof. Van Vollenhoven, menulis bahwa ‘Indonesia’ tak dapat dipakai sebagai sinonim ‘Hindia Belanda’, karena dalam etnologi dan geografi ‘Indonesia’ mencakup daerah yang lebih luas.

Nama Indonesia
Sampul Buku Karya Bung Hatta, Yang Membahas Sejarah Nama Indonesia. Sumber: TEMPO 1982.

Bantahan Bung Hatta

Bung Hatta menulis dua artikel dimajalah De Socialist, untuk menanggapi kedua sarjana Belanda itu. Tulisan-tulisan Bung Hatta inilah, bersama sebuah artikel di Indonesia Merdeka, yang diterjemahkan Gayus Siagian dan dihimpun dalam buku yang kini dibicarakan.

Dalam artikel ‘Tentang Nama Indonesia’, Hatta membantah pendapat S. Mok. Ia mengemukakan, nama itu diciptakan Earl dan Logan pada pertengahan abad ke-19, lama sebelum Komunisme yang sekarang ada. Sekaligus menolak pendapat umum saat itu  bahwa nama Indonesia ciptaan Bastian.

 Negara Indonesia Merdeka yang akan datang, kata Hatta, mustahil disebut ‘Hindia Belanda’. Juga tidak ‘Hindia’ saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang ‘asli’. Hatta menegaskan:  “Bagi kami Indonesia menyatakan tujuan politik, karena  melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.

Baca Juga: Mencari Keadilan di Zaman Kolonial

Dalam artikel ‘Dapatkah nama Indonesia dipakai sebagai pengertian ketatanegaraan?’, Hatta menanggapi keberatan Vollenhoven. Dikemukakannya dua contoh, yaitu nama ‘Amerika’ dan ‘Jerman’. Kenyataannya, ada negara bernama ‘Amerika Serikat’, meski secara geografis ‘Amerika’ ialah benua yang mengandung berbagai bangsa.

Juga ada negara bernama ‘Jerman’, meski secara etnologis ‘orang Jerman’ juga mencakup penduduk Austria. Demikian pula nama ‘Indonesia’ mencakup juga Malaka, Singapura, Brunai, dan sebagainya yang di luar Hindia Belanda.  

Artikel ketiga, ‘Sekitar Perjuangan untuk Indonesia’, mempertegas bahwa penamaan Indonesia bagi Hindia Belanda berarti tuntutan kemerdekaan bangsa dan tanah air.

Bulan Agustus 1939 Wiwoho, M.H. Thamrin dan Sutarjo sebagai anggota Volksraad mengajukan mosi kepada pemerintah Belanda, agar nama ‘Indonesia’ diresmikan sebagai pengganti nama ‘Nederlandsch-Indie’. Mosi ini ditolak.

Baca Juga: Senja – Hari Sebuah Sejarah

Maka kehendak Allah pun berlaku. Pada 10 Mei 1940 Hitler menginvasi Negeri Belanda, sehingga keluarga Oranje-Nassau terbirit-birit mengungsi ke London. Dan dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang, 8 Maret 1942, lenyaplah nama ‘Hindia Belanda’ untuk selama-lamanya.

Mencoba menegakkan benang basah, Ratu Wilhelmina, melalui siaran Radio Oranje dar London pada 7 Desember 1942, menjanjikan “perbaikan nasib” bagi rakyat Indonesia. Sengaja ia memakai kata Indonesie dan Indonesiers dalam pidatonya. Tapi jarum sejarah tak dapat dikembalikan. Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, pada 17 Agustus 1945 rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here