sin po
Resensi Buku "Politik Tionghoa Peranakan Di Jawa Karya Leo Suryadinata.

Tidak semua Cina punya latar sikap pro kolonial atau pro Gestapu/PKI. Kegiatan kaum peranakan Tionghoa di Jawa, pertengahan abad ke-20, dijiwai semangat nasioanlisme.

Judul : Politik Tionghoa Peranakan Di Jawa.

Oleh : Leo Suryadinata.

Penerbit : Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1986, 196 halaman.

Saya mulai mengenal penulis ketika ia masih kuliah di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI, tempat saya mengajar sejarah Asia Timur, setelah saya kembali dari Harvard University. Kemudian saya ikuti perkembangan Leo yang meneruskan studi M.A,-nya di Monash, Australia, dan Ph.D.-nya di American University, dengan terus menyoroti masalah etnik Tionghoa sebagai fokus studinya.

Asal mula buku ini adalah skripsi sarjananya di UI, yang kemudian ditingkatkan dan disempurnakan menjadi tesis untuk M.A. di Monash University dengan judul The Three Majors Streams in Peranakan Chinese Politics In Java (1917-1942).

Tema pokoknya, seperti dikatakan penulis sendiri, adalah meneliti ciri dan perkembangan historis dari politik kaum Tionghoa peranakan di Jawa, dengan acuan khusus kepada kebangkitan dan perkembangan tiga aliran utama. Yaitu kelompok Sin Po yang berorientasi ke Cina, Chung Hwa Hui yang berorientasi ke Hindia Belanda, dan Partai Tionghoa Indonesia (PTI) yang berorientasi ke Indonesia.

Baca Juga : Petani dan Negara

Perhatian penulis terutama terpusat pada perjuangan dalam ketiga kelompok pemimpin mereka dan perbedaan-perbedaan Ideologinya. Hubunga antara para pemimpin itu dan kaum nasionalis Indonesia juga dibahas (hlm.16). Bahan penelitiannya, terutama surat kabar Sin Po Perniagaan yang pada 1930 menjadi Siang Po, yang dekat dengan Chung Hwa Hui dan sering dianggap sebagai surat kabar setengah resmi  organisasi ini; dan Sin Tit Po, surat kabar setengah resmi PTI.

Setelah menggambarkan hubungan antara kaum peranakan dan nasionalis Tionghoa, penulis kemudian menyoroti lahirnya kelompok Sin Po, Chung Hwa Hui, PTI dan perbedaan pendapat serta orientasi tokoh-tokoh ketiga kelompok tersebut. Seperti antara Tjoe Bou San, Kwei Hing Tjiat dan Kwee Kek Beng dari Sin Po, H.H. kan dan Dr. Yap Hong Tjoen dari Chung Hwa Hui, dan Liem Koen Hian serta Ko Kwat Tiong dari PTI.

Resensi Buku Politik Tionghoa Peranakan Di Jawa karya Leo Suryadinata

Menyingkirkan Prasangka, Menilai dengan Objektif

Buku kecil ini penting karena menguraikan kebhinekaan berpikir dan orientasi masyarakat Tionghoa di Jawa dengan data yang kongkret. Data seperti itu, juga terdapatnya berbagai suku – Hokkien -, Kanton, Hakka, Tio Ciu, dan lain seterusnya – jelas bertentangan dengan prasangka masyarakat kita, yang, secara sadar atau tidak sadar, didasarkan atas sikap stereotip dan generalisasi bahwa “semua orang yang bermata sipit, berkulit kuning dan bernama tiga, adalah Cina yang di zaman kolonial propenjajah kolonial dan antinasionalisme Indonesia dan yang kemudian semaua menyokong PKI-Aidit.”

Prasangka seperti itu kadang-kadang dirasakan oleh masyarakat Tionghoa di berbagai bidang, hingga tidak menguntungkan politik nation building untuk memupuk kesatuan dan persatuan nasional Indonesia.

Memang tidak dapat disangkal, terdapat cukup banyak oknum yang tingkah lakunya menyebabkan lahirnya prasangka tersebut. Tapi menilai atau menganggap seluruh masyarakat Tionghoa atas dasar tingkah laku oknum-oknum itu berarti melupakan peranan mereka yang positif terhadap Indonesia. Juga tak ubahnya seperti menilai seluruh aparatur negara (korps pegawai negeri, kepolisian, atau ABRI) hanya berdasarkan tingkah laku tak becus atau penyelewengan oknum tertentu saja.

Baca Juga : Cerita Pendek yang Praktis

Sikap seperti itu jelas tida adil dan realistis, dan hanya dapat menyulitkan pemerintah yang harus menindak oknum-oknum yang tidak becus bahkan menyeleweng, tanpa menghukum dan mencurigai seluruh golongan. Sikap  itu juga tidak menguntungkan usaha mengerahkan potensi golongan yang bersangkutan dalam pembangunan nasional.

Pada hemat saya, buku Dr. Leo Suryadinata ini merupakan bacaan mutlak bagi masyarakat Indonesia yang ingin mengerti masalah etnik-Tionghoa di Indonesia yang masih tetap merupakan masalah peka, yang dapat dimanfaatkan atau dieksploitasi. Bahkan disalahgunakan oleh Individu atau golongan mana saja untuk tujuan tertentu yang tidak menguntungkan kesatuan dan persatuan nasional.

Buku diterbitkan oleh Pusataka Harapan, Jakarta, dalam bentuk yang menarik, dengan bahasa yang asyik dibaca. Saya menganjurkan agar buku ini dapat menjadi pengantar bagi semua orang yang ingin mengetahui secara obyektif kegiatan masyarakat Tionhoa dalam perkembangan politik Indonesia di Jawa pada pertengahan pertama abad  ke-20.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here