Siti jenar

Ilmu selalu membukakan cahaya. Tapi, di setiap ujung langkah, kegelapan mencegatnya. Ternyata, ituah yang memungkinkan perjuangan menjelajahi arasy ilmu “berjanji” untuk mengantarkan kita ke keabadian. Sebut: ke Tuhan.

Jika seseorang menggenggam keyakinan ilmu tanpa menyisakan “uang tak terduga”, sesungguhnya ia sedang melamar “kematian”. Kata kematian sengaja kita taruh diantara tanda petik karena kosmologi yang kita pahami. – seperti syekh Siti Jenar memandangnya  –  ternyata terbalik.

Wali “sempalan” itu memandang dunia dan kehidupan absurd adanya. Kejelasannya sangat tidak jelas dan ketidakjelasannya sangat jelas. Mungkin ada kata tertoreh yang lebih lugas: “Saksikanlah, kematian bertebaran dalam kehidupan!”

Kematian berlapis-lapis dan berdimensi. Berbagai kematian hampir tak diketahui oleh mereka yang menyangka sedang tinggal dalam kehidupan. Kematian memang tak terlihat. Ini membuat orang bersorak-sorai di lantai pesta kematian yakni kehidupan.

Orang mencemaskan kematian. Bahkan mereka siap membayar penghindarannya dengan biaya yang muskil, dengan ilmu dan pembangunan yang memperanakkan penindasan dan perang.

Kematian bertebaran dalam kehidupan. Kematian riuh rendah. Oleh karena itu, disegala zaman, amat sedikit orang yang bersedia menempuh jalan sunyi. Amat sedikit orang bertanya.

Sebab, ilmu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Kebudayaan menjawab pertanyaan dengan perombakan. Pembangunan menjawab pertanyaan dengan peruntuhan. Sejarah menjawab pertanyaan dengan perubahan. Dan politik menjawab pertanyaan dengan senapan.

Siti Jenar memilih jalan sunyi itu. Betapa terkutuk ia, tetapi betapa agung sakit yang dikunyahnya. Bukan Siti Jenar, tapi “Siti Jenar”. Bukan figurnya, tapi substansi dan posisi simbolisnya.

Siti Jenar sudah terpenjara: kumal, kumuh, dan barangkali terkutuk – oleh “syariat” sejarah. Oleh formalism dan “materialism.” Tapi “Siti Jenar” adalah salah satu idiom yang menggairahkan untuk menyebut  bagian – dari dunia dan kehidupan – yang mempertanyakan. Menawar. Menggugat.

Tatkala mengantarkan “kematian”-nya Sunan Bonang- menurut salah satu versi legenda tentangnya berkata, “engkau kafir dimata manusia, tapi muslim di pangkuan-Nya.”

Alangkah berbahaya. Ini revolusi filsafat, juga teologi. Itulah pintu untuk menjumpai kehidupan sejati dibalik kematian yang kita hidup-hidupkan. Dan pintu itu harus tertutup rapat-rapat: tidak saja oleh ideologi pembangunan yang memompa-mompa kesementaraan yang berujung kebuntuan serta batu bata emas permata yang berujung kemusnahan.

Pintu itu bahkan digembok erat-erat oleh kekuasaan syariat di panggung pemelukan agama. Tampaknya Sunan Bonang mengucapkan kalimat “subversif” itu dalam siding tertutup yang dilarang diperdengarkan ke telingan umat.

Pintu itu bahkan digembok erat-erat oleh kekuasaan syariat di panggung pemelukan agama. Tampaknya Sunan Bonang mengucapkan kalimat “subversif” itu dalam siding tertutup yang dilarang diperdengarkan ke telingan umat.

Maka Siti Jenar harus disembunyikan. Ia ancaman terhadap kebakuan, kebekuan, dan kemapanan. Ia ancaman bagi tradisi, konvensi, pakem, ketertaatan yang selesai: yakni segala bangunan, sistem, keberlakuan nilai, yang diresmikan untuk tak boleh diubah, untuk menjadi museum.

Dalam kebudayaan, adanya kehidupan ditandai oleh terus-menerus berlangsungnya transformasi kreatif. Atau paradigma dalam penjelajahan ilmu, inovasi dalam kesenian, ijtihad dalam agama. Itu semula jalan sunyi. Dunia kekuasaan mencurigainya, formalisme agama menyempalkannya, kebudayaan menganggapnya gila, dan kebanyakan manusia tak menyapanya.

Wajah “Siti Jenar” membayang di keremangan dunia puisi, yang terduduk di pojok pasar. Terselip dibalik lembaran-lembaran ilmu yang berhasil memotret realitas tapi gagal merekam geraknya. Kalau ditanyakan kepadanya – “di mana letakmu dalam tata nilai budaya?”, ia menjawab  -“aku berumah di geraknya. Aku berjalan melintasi petak demi petak kebekuannya. Aku tidak percaya kepadanya karena ia palsu: Kalau dipertahankan ia mati, kalau diubah ia menjelma kelenyapan demi kelenyapan”.

Siti Jenar sudah dipatungkan dalam format nilai budaya sejarah: ia mati, dimatikan, dan menjadi kematian. Tapi “Siti Jenar” sudah hidup, mengatasi budaya, dan bergabung ke keabadian.

Ketika dipanggil menghadap sidang para wali, ia menjawab, “Siti Jenar tak ada. Hanya Tuhan yang ada”. Siti Jenar bukan Tuhan. Sama sekali bukan Tuhan. Apa yang ia lakukan “hanyalah” peniadaan diri. Sebab, memang hanya itulah satu-satunya jalan bagi manusia. Hanya tuhan yang sungguh-sungguh ada.

Manusia hanya seakan-akan ada, hanya diadakan, diselenggarakan. Sejatinya tak ada. Maka, jalan agar tak palsu, agar sejati, ialah meniada, bergabung kepada satu-satunya yang ada. Itulah tauhid.

Ini juga bukan soal tasawuf, mistik, kebatinan. “Siti Jenar” ditemukan oleh orang-orang tua yang muak melihat bahwa segala sesuatu yang ia ada-adakan selama hidupnya – dengan keringat dan tumpukan dosa – ternyata sangat potensial untuk tiada. “Siti Jenar” ditemukan oleh para penguasa yang diujung jatah keberkuasaannya ia memperoleh lebih banyak ketidakamanan.

“Siti Jenar” menemani sejumlah orang yang dikejar-kejar karena menggugat dan menawarkan kehidupan kepada kematian-kematian yang dilestarikan.  “Siti Jenar” terkapar bersama sedikit orang penolak kematian yang berwujud otoritarianisme politik, ketakberbagian ekonomi dan kejumudan kultur.

“Siti Jenar” bernyanyi perih dalam tidur orang-orang yang meletakkan fikih sejajar dengan firman dan identik dengan Tuhan. “Siti Jenar” tercampak dari arena kebudayaaan yang hanya sanggup menerima verbalitas bahasa, yang menghafalkan hidup adalah KTP, negara, norma, undang-undang, dan juklak-juknis.

Terlempar dari kebudayaan yang bersembahyang demi presensi kepegawaian teologis dan tidak dalam dinamika ilmu tarekat; yang berpuasa untuk lapar, berzakat untuk kredit status, berhaji untuk keningratan. “Siti Jenar” diusir oleh formalisme , “syariat” dan fanatisme.

Kalimat “Siti Jenar tidak ada, yang ada Tuhan” tidak sedikit  pun mengindikasikan bahwa ia “ menuhankan diri”. Ia bahkan menyadari hakekat ketidakadaannya.

Firaun tidak pernah menyatakan “Akulah Tuhan!” – yang ia lakukan – sehingga bermakna menuhankan diri –ialah menomorsatukan yang selain Tuhan: ambisi kekuasaan, maniak harta benda, mengumbar nafsu, merancang segala sesuatu, dan mengeksploitasikan apa saja yang bisa dijangkau untuk kepentingan karier dan masa depan pribadi.

Itulah obsesi popular kita sehari-hari. Itulah jalanan ramai, pasar riuh rendah kita semua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here