Tambak Udang – Volume ekspor kayu lapis naik, tetapi tingkat labanya menurun. Itu kata koran. Sebentar kemudian koran pun mengungkap fakta lain: Ekspor tuna turun karena harganya anjlok.

Pada kasus tuna, yang terjadi sebetulnya adalah membanjirnya pasokan ke sebuah pasar yang tak mungkin lagi dikembangkan. Banyak orang terjun ke bisnis tuna segar karena ikan berkualitas sashimi ini memang keuntungannya di pasar Jepang menggiurkan. Mereka bersaing di lahan yang sempit sehingga terjadi overfishing. Akibatnya, tuna yang terkail semakin kecil ukurannya dan semakin rendah harganya.

Persaingan di lahan sempit itu juga mengakibatkan naiknya harga umpan. Bandeng yang semula hanya dipresto, dipindang, diasap, atau dijual segar di pasar lokal, tiba-tiba menemukan kegunaan baru sebagai umpan yang didoyani tuna.

Pasar Jepang kebanjiran tuna berkualitas sashimi. Padahal, mereka yang berpola makan magurosushi sekali sehari tak bisa ditingkatkan menjadi tiga kali sehari. Dan penduduk Jepang tak dapat diperintahkan beranak-pinak lebih banyak untuk dapat memangsa tuna yang membanjiri pasar Jatuhlah harga tuna.

Baca Juga : Bromocorah dalam Sejarah Kita

Kerawanan harga memang menjadi masalah besar dalam situasi perekonomian dunia yang lagi kelabu ini. Terutama pada sektor agrobisnis, kerawanan harga menjadi masalah yang kian menggigit. Salah hitung, apalagi salah pikir, akan mengakibatkan kerunyaman.

Di Jawa Tmur, baru-baru ini para pemilik pabrik pemroses hasil laut pada berkumpul. Kumpul-kumpul seperti ini hanya memperkuat isyarat bahwa situasi sedang betul-betul runyam. Soalnya, kalau angin lagi baik, para pemilik pabrik itu bila diundang rapat paling-paling hanya akan mengirim utusan.

Harga Udang dan Tambak Udang

Salah satu komoditi yang kian penting bagi ekspor Indonesia, sedang jatuh di pasar dunia. Jepang menghadapi tutup buku, di samping stok yang masih saja menumpuk. Eropa dan Amerika sedang istirahat membeli karena September-Oktober yang lalu mereka ngebut untuk mempersiapkan stok Natal dan tahun baru.

Tetapi harga pembelian bahan baku udang di tingkat tambak tak kunjung turun. Dan para pemilik pabrik pemroses udah tak mau menjadi sang kodok menunggu hujan. Maka, bersidanglah mereka. Memang bukan kartel yang lantas mereka bentuk. Maklum, ada dua asosiasi yang lama sebelumnya sudah terbentuk untuk mewadahi mereka. Bukan juga pembentukan sebuah “gerbang tol” untuk menyatupadukan ekspor melalui satu wadah agar bisa menggertak pasar dengan “harga instruksi”. Yang mereka bicarakan adalah sebuah solusi.

Baca Juga : Artikel Ki Hajar Dewantara

Apa sebetulnya maslah mereka? Kalau meminjam analogi Maltus, mungkin masalah itu bisa dirumuskan, begini: pabrik pemrosesan udang naik mengikuti deret ukur, sedang tambak udang naik mengikuti deret hitung. Maka, ketakseimbangan pun terjadilah.

Kenyataan bahwa sangat sedikit pabrik pemroses udang yang juga memiliki tambak udang menciptakan ketergantungan yang sangat tinggi kepada para petani tambak. Ketika satu tambak dipanen, setidaknya ada sepuluh pabrik yang ikut lelang. Tak jarang sebuah pabrik yang sedang mengejar jadwal pengapalan nekat “mengebom” dengan harga tinggi untuk memborong bahan baku. Suasana harga yang amburadul ini akhirnya mencekik semua yang terlibat.

tambak udang

Keputusan yang tepat diambil dari informasi yang lengkap

Masuk akalkah sebenarnya harga bahan baku yang ditawarkan petani itu? Ini adalah sebuah potret situasi. Pada suatu titik waktu, harga udang basah ukuran tertentu mencapai Rp 13.000 per kilo di tingkat tambak. Sebuah pabrik pemroses yang mempunyai tambak sendiri melaporkan pada waktu yang sama bahwa biaya produksi mereka di tingkat tambak jauh lebih kecil. Pada waktu yang sama, juga di wilayah Nakhon Si Thamarat, Muangthai Selatan, tingkat harganya hanya Rp 11.000 per kilo. Jelas ada ketidakwajaran dalam penentuan harga yang Rp. 13.000 per kilo itu.

Kita tak perlu lagi malu-malu kucing untuk mengetahui bahwa sebenarnyalah  banyak pabrik pemroses udang yang kini pingsan. Dalam demokrasi ekonomi seperti yang kita pahami di negeri ini, memang tak simpatik untuk mengusulkan agar izin pendirian pabrik pemroses udang dibatasi. Seorang berkocek tebal yang baru bangun dari mimpi tentang udang, tak boleh dilarang untuk mendirikan pabriknya. Keinginannya adalah legitim.

Baca Juga : Masyarakat Surakarta Menghadapi Krisis 1930

Tetapi, apakah si pemimpin itu tadi telah cukup diberi informasi tentang bisnis yang akan dimasukinya? Mungkin saja, dengan informasi lengkap yang disajikan padanya, akhirnya ia akan sadar sendiri bahwa bisnis yang akan dimasukinya itu sudah pengap.

Informasi itu pulalah solusi yang ditempuh oleh para pengusaha udang di Jawa Timur. Mereka “bersekongkol” untuk saling tukar dan mempertajam mutu informasi – khususnya informasi harga jual di pasar dunia dan harga beli bahan baku di tingkat tambak. Mereka yakin, dengan informasi yang baik, mereka akan membuat keputusan yang lebih baik.

Baca Juga : Playboy Interview George Aditjondro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here