Bur Rasuanto

Bur Rasuanto – Buku ini memenangkan hadiah yayasan buku utama bagi buku fiksi terbitan 1978, bersama sebuah novel lain, selembut hati. Bur Rasuanto, 43 tahun, sebagai wartawan memang pernah bertugas di Vietnam, 1967. “Perang itu melibatkan seluruh aspek manusia,” begitu kesannya.

Judul : Tuyet

Karya : Bur Rasuanto

Penerbit : Gramedia, 1978

Tebal : 162 halaman

Alimin, tokoh rekan bur Rasuanto dalam novel Tuyet, adalah seorang wartawan Indonesia. Ia bertugas di Vietnam ketika negeri itu dalam badai peperangan di akhir 60-an.

Di negeri yang sedang mengalami pergeseran nilai-nilai sosial maupun kemanusiaan itu Alimin bergaul dan bersahabat dengan berbagai macam orang dari segala penjuru dunia. Tentu saja wartawan itu juga bergaul dengan orang-orang Vietnam; salah seorang di antaranya adalah Tuyet, gadis muda yang namanya menjadi novel ini.  Novel ini dimulai dengan pertemuan antara Alimin dan Tuyet.

Bur menulis novel ini dengan gaya akuan; si aku adalah alimin. Dengan demikian semua peristiwa yang dirangkaikan dalam dunia rekaan ini dilihat dari sudut pandang alimin. Sebagai pencerita, alimin tidak sekedar melaporkan apa yang terjadi di sekitarnya, tetapi boleh dikatakan terlibat didalamnya. Dan keterlibatan gadis Vietnam itu jelas berarti bahwa ia juga terlibat dalam masalah sosial dan kemanusiaan yang merundungnya.

Keterlibatan si pencerita itu juga mengakibatkan tokoh Tuyet, yang menjadi judul buku ini, bukan merupakan tokoh sentral yang sepenuhnya menentukan keseluruhan novel ini, yang lebih menonjol adalah hubungan antara si aku dan Tuyet, di samping sikap dan tanggapan si aku terhadap masalah gadis Vietnam itu.

Baca Juga : Diplomasi Beras Sjahrir

Kesulitan Tuyet berpangkal pada penahanan ayahnya oleh pemerintah. Mayor yang bertanggung jawab atas penahanan ayah Tuyet itu menjanjikan nasib yang lebih baik bagi tahanannya, asal gadis itu bersedia memberinya imbalan berupa sejumlah uang.

Uang itu tidak dapat disediakan Tuyet; oleh karena itu si Mayor meminta agar sebagai gantinya Tuyet bersedia memenuhi kebutuhan seks orang pemerintahan tersebut. Tuyet, yang sudah terlanjur jijik melihat sanga mayor, mencoba untu menjual dirinya kepada orang lain saja agar imbalan uang itu bisa terpenuhi.

Tuyet dan Alimin

Dan, “cerita” novel ini dimulai ketika Tuyet menemui Alimin untuk kemudian berusaha menjual diri. Mungkin novel ini tidak perlu ditulis seandainya Alimin dengan senang hati “membeli” Tuyet. Tetapi tidak; sewaktu Alimin mengetahui bahwa ternyata penyerahdirian gadis itu dimaksudan untuk mendpatkan duit, si aku berkomentar, “Bukan main muakku melihatnya. Kucoba membongkar pelakunya dileherku. Tapi dia mempertahankan sekuat tenaga. Air tangis mulai memperburuk mukanya” (hal.87). Bahkan akhirnya Alimin menampar muka gadis yang beberapa hari terakhir ini dikenalnya sebagai toko yang simpatik.

Di sini sebenarnya telah terjadi perbenturan nilai. Tuyet menilai bahwa dengan menjual dirinya kepada Alimin (agar tidak usah menyerah kepada sang mayor) ia masih bisa mempertahankan kemurniannya. Di pihak lain Alimin menilai bahwa dengan menjual diri itu Tuyet tidak pantas dinilai baik; hubungannya dengan Alimin ternyata tidak murni. Setelah Tuyet membeberkan latar belakang peristiwa itu, barulah Alimin berusaha memahami inti masalahnya, dan kemudian mengadakan penilaian kembali atas gadis itu. “Rasanya dalam cerita Tuyet, entah mengapa, seolah tiba-tiba tersangkut kepentingan diriku.” (hal. 93).

Baca Juga : Logika Sebuah Pemberontakan

Perlu ditambahkan bahwa sebenarnya maksud pertama Tuyet menemui Alimin adalah untuk menanyakan kiriman (uang) dari seorang wartawan Eropa yang kini sudah pulang. Ternyata kiriman itu belum sampai juga di akhir novel ini, tetapi dalam surat yang dikirimkan kepada Alimin, Tuyet sudah terlanjur memutuskan untuk menyerah saja kepada sang mayor, demi nasib baik ayahnya.

Bur Rasuanto
Sapardi Djoko Damono menulis resensi novel Tuyet karya Bur Rasuanto.

Pergeseran Nilai-Nilai

Alur seperti yang diringkaskan di atas itu jelas tidak bisa mewakili karya Bur Rasuanto. Ia terlalu sederhana dan bukannya tidak berbau kebetulan. Di dalam bagian “preluda”, yang berfungsi sebagai pengantar novel ini, Bur antara lain menulis.

“.. Nama-nama akan muncul sekali atau lebih atau tidak sama sekali, tapi tak akan ada di sini  apa yang engkau sebut plot, jalinan perkembangan watak atau segala tetek-bengek kaidah sastra semacam itu. (hal.7)

Kutipan itu lebih menjelaskan kepada kita bahwa sebenarnya bukan kisah tentang Tuyet yang ingin ditampilkan pengarang, melainkan pergolkan dan pergeseran nilai-nilai yang memungkinkan kisah semacam itu terjadi. Tuyet bukan satu-satunya tokoh rekaan yang memikat perhatian kita.

Dalam novel ini kita jumpa pula tokoh-tokoh lain, dengan berbagai maacam watak. Tetapi tokoh-tokoh itu tidak ditonjolkan sehingga menggeser fokus. Mereka itu hanya berfungsi sebagai latar. Bersama-sama dengan sederet peristiwa dan benda yang diperikan, tokoh-tokoh itu berhasil membangun latar yang, dalam struktur keseluruhan, menjadi semacam amplifier bagi suara batin manusia.

Baca Juga : Esai Bondan Winarno

Demikianlah maka latar merupakan unsur yang sangat dominan dalam novel ini. Dengan bahasa yang cekatan Bur Rasuanto telah menciptakan masyarakat yang sedang diguncang oleh senjata, tentara, kemiskinan, ketidakadilan, kelicikan, dan ketidakpastian.

Tanda seru dan titik-titik tidak jarang muncul diakhir kalimat. Hal itu jelas membuktikan bahwa novel ini tidak bebas sama sekali dari emosi pengarang yang kadang-kadang agak berlebihan. Namun secara keselurahan emosi itu bisa dikontrol oleh sikap kritis pengarang terhadap dunia ciptaannya itu. Kontrol itu melahirkan daya tarik yang sangat kuat bagi pembaca, yakni humor yang cerdas (wit) yang menyatu pada peristiwa demi peristiwa yang bergerak sangat cepat dan “riuh-rendah”.

Dari latar yang demikian itulah muncul suara lirih manusia Tuyet, lewat si aku, yang dalam kehidupan sehari-hari hilang begitu saja di tengah-tengah kesibukan kita bermasyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here