Bambang Kristiono
Proses sidang tim mawar.

Delapan anggota Kopassus menolak dipecat dari dinas militer. Mereka langsung mengajukan banding. Oditur Militer siap meladeninya.

Selasa, 6 April 1999. Wajah Mayor Inf. Bambang Kristiono tampak memerah. Ia merasa geram hingga akhirnya tak kuat menahannya.

“Dengan terpaksa, saya menolak keputusan ini,” tegas Bambang Kristiono di Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti) II-08, Jakarta. Suasana sidang pembacaan vonis pun gaduh.

Hari itu, 11 anggota Kopassus yang jadi terdakwa dalam kasus penculikan aktivis, divonis majelis hakim. Menurut Ketua Majelis Hakim, Kol. C.H.K Susanto, para terdakwa telah melanggar pasal 55 KUHP.

“Ke 11 terdakwa terbukti menghilangkan kemerdekaan orang lain,” kata Susanto.

Ke-11 terpidana yang tergabung dalam Tim Mawar itu adalah Mayor Inf. Bambang Kristiono (dihukum 22 bulan dan dipecat dari TNI), Kapten Inf. F.S. Multhazar, Kapten Inf. Nugroho Sulistyono Budi, Kapten Inf. Yulius Silvanus, Kapten Inf. Untung Budi Harto (keempatnya dihukum 20 bulan dan dipecat dari TNI).

Baca Juga: Prabowo Tamat

Kapten Inf. Dadang Hendra Yudha, Kapten Inf. Djaka Budi Utama, Kapten Inf. Fauka Noor Farid (Ketiganya dihukum 16 bulan), Serka Sunaryo, Serka Sigit B, Sertu Sukadi (ketiganya divonis 12 bulan).

Bambang Kristiono Menolak  Dipecat dari Kopassus

Atas vonis hakim, Bambang Kristiono tak terima. Lalu, ya, itu tadi, ia berteriak keras menolak vonis majelis hakim. Bambang tidak menyoal beberapa tahun dipenjara, tapi ia tak mau dirinya dan anggotanya dipecat dari Kopassus.

Itulah sebabnya, Bambang bersama dengan terpidana lainnya mengajukan banding. Sedangkan, tiga prajurit yang dihukum ringan menyatakan pikir-pikir.

Selain itu, menurut Ketua Tim Penasehat Hukum terdakwa, Kol C.H.K. Rettob Abdullah, alasan lain mengajukan banding adalah majelis hakim memainkan keterangan 11 terdakwa agar dakwaan Oditur Militer terbukti.

Baca Juga: Menunggu Rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira, Menunggu Sikap Wiranto

Celakanya, saksi yang menolak dimintai keterangan, dijadikan petunjuk oleh majelis hakim. “Itu kan nggak benar. Mestinya hanya pengakuan terdakwa. Sebab, barang bukti lain tidak ada. Perbuatan para terdakwa nggak salah. Mengapa mesti dhukum? “ujarnya kepada ADIL.

Bambang Kristiono
Wiranto menjadi Panglima ABRI saat kasus penculiakan terhadap aktivis terjadi. Sementara Prabowo menjabat Danjen Kopassus.

Lagi pula, meski menculik aktivis, tapi perbuatan itu untuk kepentigan yang lebih besar. Sesuai jurisprudensi Mahkamah Agung, kata RetoB, unsur melawan hukumnya bisa diabaikan. “Jadi, tindakan terdakwa benar,” tegasnya.

Tim Mawar Mengakui Telah Menahan dan  Melakukan Interograsi

Memang, setelah menangkapi sejumlah aktivis, Tim Mawar menahan mereka. Lalu, para aktivis diinterogasi. Semua itu diakui oleh para terdakwa. Lantas Tim Mawar memuangkan lima aktivis ke rumah mereka masing-masing karena dianggap tak melakukan kejahatan atau pelanggaran hukum. Sedang empat aktivis lainnya diserahkan ke polisi karena melakukan kejahatan.

Setiba di rumah, sejumlah korban penculikan seperti Pius Lustrilanang dan Desmond Junaedi Mahesa, mengaku selama ditahan mereka disiksa dan dianiaya. Tapi, soal itu tidak pernah terungkap – atau memang tak akan diungkapkan, dalam persidangan.

Persoalan lain yang masih menjadi misteri yakni nasib 13 aktivis lain yang hingga kini tak diketahui riwayatnya.

Kejanggalan lainya, Oditur Militer maupun penasehat hukum terdakwa tak menghadirkan Kol. Chairawan. Padahal ketika bersaksi Bambang Kristiono menyebutkan namanya. Majelis Hakim juga mengabaikan tempat penyekapan. Seharusnya hakim menggelar sidang lapangan atau merekonstruksi.

Baca Juga: Dialog Mayjen TNI Syamsu Djalaludin dengan Keluarga Korban Penculikan

Seharusnya, menurut pengacara Kontras, Ori Rahman, apa yang terungkap di persidangan – seperti nama Chairawan, digali dan dikejar.

Selain mengundang tanya, vonis ini sekaligus menyingkap borok persidangan. “Vonis hakim kian membuktikan ada rekayasa dalam persidangan. Kasus ini disidangkan tanpa menyentu substansi persoalan, yakni penculikan,” katanya.

Apa pun, kasus penculian belum berakhir. Masih ada banding. Oditur Militer, Kol. C.H.K S. Panguruk A.M, pun siap melayaninya.

“Saat mereka membuat memori banding, kami membikin kontra memori banding,”’ ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here